Memberi masukan signifikan pada agenda pembangunan yang lebih luas

Berita

You are here

 » 5 Rekan Muda yang Hadir di Forum KTI VI 2012
5 Rekan Muda yang Hadir di Forum KTI VI 2012
Berikut adalah para pemenangnya dan alasan mereka kenapa kami harus memilihnya menjadi pemenang – semuanya adalah anak muda yang luar biasa! Kami senang sekali mereka menemukan BaKTI dan kami menemukan mereka. Anda dapat membacanya untuk mengetahui kenapa keenam anak muda ini spesial. Mereka menggambarkan dirinya sebagai berikut.
 
1. Nabilla Sabban, 24, Ambon
 
"Saya percaya saya memenuhi kriteria sebagai peserta Forum KTI dengan sejumlah pengalaman saya bekerja sebagai aktifis perdamaiaan di Ambon, Maluku. Pekerjaan saya membuat saya banyak terjun langsung ke masyarakat sehingga saya bisa mengerti kebutuhan masyarakat Maluku di kota Ambon dengan cukup baik. Namun, tidak hanya sebatas itu, saya pun aktif berhubungan dengan pemerintah daerah untuk membangun kerjasama yang baik antara masyarakat dan pemerintah. Sekarang saya masih berada di Inggris untuk menyelesaikan studi Masters saya dan akan segera kembali ke Indonesia pada tanggal 9 September 2012. Penelitian saya sekarang tentang Islamic conflict resolution (resolusi konflik menggunakan pendekatan Islam) sebagai cara baru untuk menyelesaikan konflik di Ambon Maluku. Dengan dipilihnya saya sebagai peserta, saya berharap bisa membagi ilmu baru yang saya pelajari disini dengan teman-teman di Forum KTI untuk membuat Indonesia timur yang jauh lebih baik, aman dan damai dengan berbagai macam keanekaragamannya. "
 
2. Rahmania Rahman, 24, Makassar
 
"Saya ingin melakukan banyak hal. Hal ini dilihat dengan kesibukan sebagai mahasiswa UNM, staf di BKPRS, owner dari usaha print kecil kecilan, dan masih sempat berkarya, misalnya beberapa tulisan saya pernah dimuat di Fajar, buku dan novel. Saya berusaha melakukan yang terbaik.Oleh karena itu saya sangat berharap ketika diberi kesempatan, saya akan membagi pengalaman itu. Selain itu,saya juga salah satu Delegasi lndonesia yang akan menjadi salah satu bagian dari 400 pemuda Internasional pada Global Youth Cultural Summit 2013 yang dilaksanakan pada tanggal 16-20 Agustus 2013 di Jakarta, yang membahas tentang MDGs, jadi banyak input yang saya butuhkan, salah satu pergerakan KTI dalam mencapai MDGs tersebut."
 
3. La Nane, 21, Wakatobi
 
"Saya adalah seorang aktivis lingkungan. Sejak saya berkiprah di dunia pendidikan saya pernah menjabat sebagai Duta Karang, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara pada tahun 2008. Selain itu, pada tahun yang sama saya meraih medali emas pada acara lomba cerdas cermat lingkungan mengenai terumbu karang. Saya juga merupakan siswa/mahasiswa yang termasuk aktif dalam kegiatan kepenulisan lingkungan. Oleh karena itu, saya  banyak meraih prestasi pada kegiatan kepenulisan lingkungan. Saya juga sudah memberikan hasil nyata dari proses kuliah saya melalui pengabdian kepada masyarakat pesisir, khususnya nelayan bulu babi dengan mencetuskan invensi teknologi baru untuk kesejahteraan mereka. Invensi teknologi yang sedang saya jalankan saat ini adalah mesin perontok duri bulu babi (sea urchin) untuk produksi gonad bulu babi (kukure) yang kaya nutrisi untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat pesisair Indonesia guna mengurangi dampak gizi buruk yang banyak melanda masyarakat pesisir akibat kemiskinan ditengah kekayaan sumberdaya laut yang sangat melimpah. Alhamdulillah proyek sosial ini direspon baik juga oleh masyarakat luar negeri, khususnya negara Amerika Serikat (USA) sehingga saya terpilih menjadi delegasi Indonesia dalam ajang Oneyoungworld, yang akan dilaksanakan di Pittsburgh,18-22 Oktober 2012 mendatang, untuk dipresentasikan dihadapan seluruh pemuda dunia mengenai invensi teknologi projek sosial saya yaitu mesin perontok duri bulu babi (U- Tech) dalam mengentaskan kasus gizi buruk di Indonesia."
 
4. Johanna Manubey, 25, Kupang
 
"Saya  seorang yang suka bercerita dan mendengarkan cerita, terutama yang positif, serta membaca. Anak kedua dari empat bersaudara, ibu saya seorang guru dan ayah saya seorang tukang bangunan. Saya juga merupakan salah seorang relawan pada Komunitas Akar Rumput (KoAR) NTT, aktivis pada GMKI-Kupang (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia-Kupang) selain itu keseharian saya diisi dengan menjadi salah seorang tenaga pengajar pada SMA Negeri 1 Kupang. Yang dilakukan untuk Indonesia lewat Komunitas Akar Rumput (KoAR) NTT adalah menjadi relawan dimana setiap minggu sebanyak 3 kali mulai pukul 19.00-21.00 WITA, saya mengajar anak-anak yang merupakan pekerja pada pasar Kasih Naikoten 1 yang tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah. Saya mengajari mereka untuk membaca, menulis dan berhitung. Selain itu saya juga merupakan relawan untuk Beasiswa KITA, salah satu program yang dikembangkan oleh komunitas kami."
 
5. Christov Pieter Yohanes Manuhutu, 21, Jayapura
 
"Ketika SMA dulu, saya mengembangkan komunitas pecinta lingkungan bersama beberapa teman dan terbukti kini mereka berhasil memperjuangkannya hingga saat ini. Kini dalam komunitas kampus, saya terlibat dalam Forum Indonesia Muda dan terlibat pula dalam komunikasi dengan Youth Desk UNESCO untuk pengembangan kerjasama wirausaha di Papua. Ada juga yang kami kerjakan lewat visi "Transformasi Papua" yang bisa dilihat di http://www.transformasipapua.org dimana kami fokus pada pengembangan usaha kecil, pemberdayaan masyarakat dan pendidikan kewirausahaan."
 
6. Indah Fajarwati, 25, Palu
 
"Sebagai staff Perempuan dan Pangan Solidaritas Perempuan Palu, saya melakukan penguatan kapasitas perempuan Sulawesi Tengah, baik di kalangan mahasiswa maupun perempuan di pedesaan, sehingga perempuan Indonesia, khususnya di Sulawesi Tengah, terbebas dari kebodohan, tentunya dengan semakin meningkatnya kemampuan serta keaktifan perempuan berdampak pada perbaikan dan kemajuan dari pembangunan. Saya memiliki kemauan dan semangat untuk membangun Indonesia, khusunya daerah timur, terkhusus Sulawesi Tengah. Saya salah satu dari sekian anak muda yang punya kepedulian terhadap bangsa dan juga salah satu dari sekian banyak perempuan Indonesia yang memiliki semangat untuk berpartisipasi dalam membangun bangsa ini.”
Indonesian