Memberi masukan signifikan pada agenda pembangunan yang lebih luas

Berita

You are here

 » BANGGA Papua, Usaha Membawa Papua Keluar Dari Momok Gizi Buruk
BANGGA Papua, Usaha Membawa Papua Keluar Dari Momok Gizi Buruk

21 November 2017, Pemerintah Provinsi Papua meluncurkan sebuah program yang diberi nama BANGGA Papua. BANGGA adalah akronim dari Bangun Generasi dan Keluarga Papua Sejahtera. Secara garis besar, program ini adalah sebuah program pemberian bantuan sosial kepada Orang Asli Papua (OAP) yang memiliki anak usia 0-4 tahun. Setiap anak akan diberikan bantuan sebesar Rp.200.000,- per bulan. Bantuan tersebut diharapkan bisa akan digunakan oleh orang tua penerima manfaat untuk menjaga atau memperbaiki gizi anak dan meningkatkan akses anak kepada layanan kesehatan.
Kenapa anak usia 0-4 tahun yang terpilih? Menurut Lukas Enembe, S.P, M.H – Gubernur Papua – mereka ini adalah generasi emas Papua. Mereka adalah generasi masa depan Papua yang akan meneruskan generasi yang sekarang. Karenanya dianggap penting untuk menjaga atau meningkatkan gizi mereka. Selain mereka yang berusia 0-4 tahun, nantinya BANGGA Papua juga akan menyasar sasaran lain penerima manfaat BANGGA Papua adalah mereka yang lanjut usia atau berusia di atas 60 tahun. Mereka Para lansia ini dianggap sudah kesulitan untuk mengakses pekerjaan dan bantuan sosial.
Meski sasaran utamanya adalah anak usia 0-4 tahun, namun BANGGA Papua sejatinya diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan warga Papua dan mengentaskan kemiskinan. Mengenyahkan gizi buruk hanya sasaran antara.
Program BANGGA Papua ini berjalan dengan bantuan teknis dari dua lembaga, yaitu: KOMPAK dan MAHKOTA. Sebagai pilot project terpilih tiga kabupaten yaitu: Paniai, Lanny Jaya dan Asmat. Selanjutnya BANGGA Papua akan dilaksanakan di 26 kabupaten dan kota lainnya di Papua. Hingga awal Januari 2018, pendataan sudah diselesaikan di tiga kabupaten tersebut. Sekarang, anggota Sekertariat Bersama (Sekber) tingkat kabupaten sedang melakukan verifikasi data para penerima manfaat tersebut.
Direncanakan bulan April 2018 bantuan tersebut sudah bisa diterima oleh para penerima manfaat. Bank Papua sudah berkomitmen untuk menjadi perantara pencairan dana bantuan tersebut.
Salah satu tantangan berat dari program BANGGA Papua adalah memastikan bahwa bantuan yang diterima tepat sasaran dan tepat guna. Bukan hal mudah untuk meyakinkan penerima manfaat agar menggunakan dana tersebut untuk menjaga atau meningkatkan gizi anak usia 0-4 tahun mereka.
Karena itulah dipandang perlu untuk membuat strategi komunikasi dan alat komunikasi yang mudah dipahami, agar penerima manfaat benar-benar mengerti akan tujuan dari program ini.  Untuk mencapai tujuan itu, KOMPAK dan MAHKOTA bekerjasama dengan Yayasan BaKTI yang memang sudah berpengalaman mengelola pengetahuan, khususnya di Indonesia bagian timur. Tugas utama BaKTI adalah memastikan terciptanya tersedianya strategi komunikasi dan alat komunikasi yang pas demi mendukung suksesnya program BANGGA Papua.
Sebagai langkah awal, BaKTI telah melakukan beberapa penilaian (assessment) ke berbagai pihak. Mulai dari Sekber tingkat provinsi dan kabupaten, beberapa mitra NGO yang sudah bekerja cukup lama di Papua, praktisi yang dianggap punya banyak pengetahuan tentang Papua serta akademisi.
Assessment ini dianggap penting untuk bisa mendata sebanyak mungkin perilaku warga, budaya, kebiasaan, rambu-rambu atau hal-hal lain yang dianggap penting dalam penyusunan strategi dan alat komunikasi. Tentu tidak bijak membuat suatu strategi atau menciptakan alat komunikasi tanpa mengetahui dengan pasti para sasaran penerima manfaat. Apalagi Papua memang memiliki tradisi, budaya dan kebiasaan yang sangat beragam.
Bagaimanapun, program BANGGA Papua adalah salah satu langkah pemerintah Provinsi Papua yang patut diapresiasi. Sudah saatnya menjauhkan Papua dari berita-berita miring soal gizi buruk seperti yang sering terlihat sekarang. Meski begitu, BANGGA Papua tentu tidak bisa berjalan tanpa dukungan dari banyak pihak.
“Kami menyadari program ini merupakan hal yang baru bagi Pemerintah Provinsi Papua. Banyak hal-hal baru yang kami pelajari dari proses perancangan program ini. Saya mengharapkan kita semua dapat bekerja sama mendukung pelaksanaan program ini,” ujar Lukas Enembe, dikutip dari laman Papuatoday.com.
Membawa Papua keluar dari stigma gizi buruk memang tidak mudah, tapi dengan kerjasama dan kesadaran banyak pihak, tentu hal tersebut bukan tidak mungkin.

 

 

Tags Berita: 
Indonesian