Saling belajar dalam meningkatkan kualitas program
dan bekerja sama menyelaraskan upaya pembangunan

Berita

You are here

 » Bangkitnya Gairah Membangun Kampung
Bangkitnya Gairah Membangun Kampung

Sebuah refleksi oleh James Modouw

Teman-teman aktivis pembangunan desa (kampung) yang saya kasihi.  Izinkan saya untuk membagi refleksi saya dalam mendampingi program pembangunan masyarakat kampung melalui Program KOMPAK LANDASAN 2, yang di Tanah Papua dikelola oleh Yayasan BaKTI dalam melakukan intervensi layanan dasar di bidang Pendidikan, Kesehatan dan Pemberdayaan Kampung selama satu tahun terakhir ini.

Program penguatan kapasitas kampung yang didukung oleh Pemerintah Australia melalui KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan) LANDASAN 2 di Provinsi Papua dan Papua Barat mencakup kabupaten Jayapura, Boven Digul, Asmat, Lanny Jaya, Waropen, Nabire, Kaimana, Fakfak, Sorong dan Manokwari Selatan.

Melalui program ini Pemerintah Kampung dilatih untuk menyusun Sistim Administrasi dan Informasi Kampung (SAIK) yg sangat komprehensif meliputi data anggota keluarga, pekerjaan sehari-harinya dan semua pemilikannya menjadi data profile potensi kampung.  Sistem ini kemudian menjadi dasar dalam perencanaan dan musyawarah pembangunan di Kampung dengan memanfaatkan Dana Desa/Kampung yang diberikan oleh Pemerintah Pusat maupun dari provinsi.

Melalui data dalam SAIK ini dan berdasarkan hasil musyawarah pembangunan yang dikoordinir oleh aparat pemerintah wilayah Distrik/Kecamatan, melibatkan Kepala Desa/ kampung dan berbagai tokoh di kampung dalam melakukan peningkatan mutu pelayanan dasar untuk bidang pendidikan dan kesehatan di kampung.

Hasilnya luar biasa. Berbagai keluhan di bidang pendidikan dan kesehatan di Kampung yang selama ini tidak tersentuh, ternyata dapat diselesaikan sendiri oleh masyarakat bersama para pemimpin di Kampung secara gotong royong. Kebutuhan sarana layanan dasar yang kurang memadai selama ini, selalu ditunggu melalui proyek pemerintah kabupaten atau provinsi dan menjadi kegiatan yang terlepas dari partisipasi masyarakat, mereka hanya menjadi penonton. Kini pembangunan kebutuhannya dapat dikerjakan sendiri melalui swakelola.

Kegiatan membangun Kampung kini kembali menjadi milik masyarakat sendiri. Modal membangun melalui sistem proyek selama ini hanya dapat berjalan karena adanya dana, kini berubah. Dana hanyalah sebuah pemicu, tetapi semangat gotong royong menjadi modal utama pembangunan bagi masyarakat Kampung, karena adanya keterbukaan dari pemimpinnya yang menimbulkan kepercayaan warga desa/kampung dan semangat bekerjasama. 

Masalah pendidikan dan kesehatan yang selama terabaikan dan tidak fokus kepada manusia khususnya anak-anak mulai bergeser fokus pelayanannya. Anak-anak menjadi pusat perhatian dan pelayanan. Beasiswa bagi anak-anaknya sampai Perguruan Tinggi dapat diatasi dengan cara yang sangat elegan. Sanitasi dan kebersihan lingkungan menjadi modal hidup sehat dikerjakan sendiri secara gotong royong. Laki-laki tampil lebih aktif mengambil peran domestiknya, beban perempuan semakin ringan sehingga dapat melahirkan anak-anak yang sehat dengan gizi yang memadai. 

Pembangunan yang intinya partisipasi/gotong royong mulai kelihatan roh nya di Desa Kampung-kampung yang diintervensi oleh program ini.

 

Tags Berita: 
Indonesian