Saling belajar dalam meningkatkan kualitas program
dan bekerja sama menyelaraskan upaya pembangunan

Berita

You are here

 » Diskusi Praktik Cerdas Kisah Kapal Kalabia di Raja Ampat
Diskusi Praktik Cerdas Kisah Kapal Kalabia di Raja Ampat

Praktik cerdas belakangan ini semakin mendapat tempat sebagai model pembangunan sosial yang memberi dampak kuat dalam membangkitkan antusiasme masyarakat untuk menularkan gagasan-gagasan inovatif mereka. Menawarkan solusi cerdas dipandang sebagai langkah efektif yang strategis ketimbang menghadirkan sejumlah teori dan rencana pembangunan yang rumit dan sulit diterapkan. Oleh karena itu BaKTI mengidentifikasi, mendokumentasi dan mempromosikan praktik cerdas untuk mendorong replikasi dan adopsi dari praktik cerdas yang terpilih di KTI (meliputi 12 provinsi di Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua).

Salah satu praktik cerdas yang telah diidentifikasi, didokumentasi dan dipromosikan oleh BaKTI adalah Kapal Kalabia di Raja Ampat. Kapal Kalabia melakukan perjalanan dari pulau ke pulau di Kabupaten Raja Ampat dengan misi pendidikan konservasi. Ia membawa tenaga pengajar, buku-buku, dan peralatan bermain serta memberikan pemahaman pada anak-anak di sana tentang lingkungan mereka, tentang ekosistem laut, terumbu karang, pantai dan mangrove.  Awak Kalabia semua adalah orang lokal: anak buah kapal (ABK) hingga tenaga pengajar. Motto Kalabia adalah Berlayar Sambil Belajar. Dalam setiap kali trip, Kalabia membutuhkan sekitar 20 hari. Kalabia singgah di setiap kampung selama 3-5 hari. Kalabia telah mengunjungi semua kampung di kepulauan Raja Ampat dan menjangkau sekitar 6000 anak.

Dalam mengemban misi pendidikan konservasi, Kalabia memfokuskan kegiatan belajar-mengajar pada siswa Sekolah Dasar Kelas 4 dan 5.  Mengapa Kalabia membagi pengetahuan pada anak-anak usia Sekolah Dasar? Mereka adalah generasi muda yang pada 20 tahun mendatang akan bekerja dan menjadi pengambil kebijakan. Data yang dirilis Conservation International melalui beberapa peneliti yang telah mengunjungi  Teluk Cendrawasih, Kepulauan Raja Ampat, dan Teluk Kaimana menunjukkan tingginya keanekaragaman laut di daerah-daerah tersebut, dimana terdapat setidaknya 1.700 jenis ikan karang. Hasil pendataan biota laut menunjukkan terdapat 1.500 jenis ikan karang dan 600 jenis terumbu karang di Kepulauan Raja Ampat saja. Jumlah tersebut adalah sekitar 75 persen dari seluruh terumbu karang yang ada di dunia.

Raja Ampat adalah jantung dari segitiga terumbu karang dunia dan di masa depan, anak-anak ini adalah penjaganya. Pengetahuan akan ancaman yang dihadapi laut dan kehidupan di dalamnya inilah yang disebarkan Kalabia bersama dengan pengetahuan akan peran penting mereka bagi keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan hidup manusia. Para pengajar Kalabia mengajak anak-anak menyelam, mengenali terumbu karang, bermain di pantai dan mangrove serta mengenal beragam tumbuhan dan satwa yang hidup di sana.

Sebagai lembaga yang berfokus pada pengelolaan pengetahuan, BaKTI memfasilitasi Diskusi Praktik Cerdas Kapal Kalabia di Ambon. Diskusi ini berlangsung pada tanggal 18 Oktober 2017 bertempat Ruang Rapat Lantai VI Kantor Gubernur Maluku. Diskusi ini dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Gubernur Maluku, Ibu Dr. Frona Koedoboen. Diskusi ini dilaksanakan di Ambon, Maluku karena Maluku merupakan wilayah kepulauan dan model belajar yang dikembangkan Kapal Kalabia di Raja Ampat memiliki potensi untuk diadopsi di Maluku. Menas Mambrasar, pengajar dari Yayasan Kalabia hadir berbagi inspirasi dengan pelaku pembangunan di Maluku. Salah satu peserta yang berasal dari PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Nsia'ir Maluku sangat terinspirasi dengan kisah yang disampaikan oleh Menas. Beliau sampaikan bahwa diskusi hari itu membuka wawasan beliau bahwa untuk menjangkau wilayah kepulauan di Maluku, PKBM bisa memanfaatkan kapal sebagai moda transportasi dan menjadi ruang belajar apung. Selain itu mereka harus memiliki bahan ajar yang menarik dan up to date sehingga ada kerinduan dari masyarakat peserta kelas PKBM untuk selalu ingin mengikuti kelas belajar PKBM Nsia’ir. Selain itu peserta diskusi dari Balai Pengawasan Perikanan Nasional (BPPN) Maluku memberikan masukan untuk bisa menghubungi Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti agar kapal yang rencana ditenggelamkan bisa digunakan sebagai moda transportasi kelas belajar di Maluku. Masukan untuk menjaga kebersihan teluk Ambon juga mengemuka dengan menggunakan metode belajar Kapal Kalabia.

Diskusi di Kantor Gubernur Maluku ini dihadiri oleh 64 peserta (Laki-laki: 33, Perempuan: 31) yang terdiri pemerintah kabupaten/kota di Maluku, pemerintah provinsi Maluku, LSM, komunitas, akademisi, sektor swasta, dan media.

Diskusi praktik cerdas tanggal 18 Oktober tersebut kemudian dilanjutkan keesokan harinya dengan diskusi yang lebih terfokus dengan pihak-pihak yang tertarik untuk belajar lebih jauh mengenai Kapal Kalabia di Raja Ampat. Diskusi berlangsung di kantor Heka Leka. Diskusi berlangsung interaktif dengan adanya rencana kunjungan tim Heka Leka ke Yayasan Kalabia di Raja Ampat.

Kegiatan ini dilaksanakan dengan dukungan dari Pemerintah Australia melalui Australian Alumni Grant Scheme dan diadministrasi oleh Australia Awards di Indonesia. 

Indonesian