Saling belajar dalam meningkatkan kualitas program
dan bekerja sama menyelaraskan upaya pembangunan

Berita

You are here

 » Inovasi Transportasi Publik Kota Makassar PASIKOLA, Petepete Anak Sekolah
Inovasi Transportasi Publik Kota Makassar PASIKOLA, Petepete Anak Sekolah

Pasikola atau Petepete Anak Sekolah berawal dari lokakarya design thinking bagaimana menciptakan transportasi publik yang dicintai masyarakat. Lokakarya ini diselenggarakan oleh UNDP bekerja sama dengan UN Pulse Lab Jakarta, Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI), Pemerintah Kota Makassar-Dinas Perhubungan, Organisasi Angkutan Darat (Organda) pada bulan November 2016.

Pada workshop ini mengemuka 6 (enam) ide dari enam kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari berbagai unsur elemen masyarakat seperti akademisi, pemerintah daerah, komunitas kreatif hingga penyandang disabilitas. Hadir pula perwakilan Organda, Dinas Perhubungan dan Kepolisian. Keenam ide itu muncul dari diskusi kelompok yang kemudian dimatangkan pada sesi ujicoba pada warga sekitar.

Pada bagian akhir lokakarya yang berlangsung tiga hari ini, keenam kelompok mempresentasikan ide mereka dihadapan Pavaani Reddy, UNDP Bangkok Regional Hub dan Bapak Mario Said, Kepala Dinas Perhubungan Kota Makassar. Pada sesi pitching ini, keenam kelompok diberi kebebasan menggunakan media apa saja dalam presentasi namun hanya diberi waktu selama lima menit. Pada sesi presentasi ini akhirnya terpilih tiga ide untuk dikembangkan dalam tahapan inkubasi yaitu pertama, Petepete Anak Sekolah, disingkat Pasikola. Ide ini mengoptimalkan pete-pete yang sudah ada untuk digunakan sebagai angkutan khusus bagi anak-anak sekolah. Pasikola akan melalui trayek dari kawasan pemukiman ke sekolah-sekolah.  Kedua, Sistem Feeder Bajikia, mengurai trayek utama yang padat dan mengarahkannya ke dalam pemukiman/kompleks perumahan. Di dalam pemukiman ini, pete-pete dan bentor mengambil penumpang lalu bertindak sebagai pengumpan penumpang yang berlokasi di Mall, pasar dan sekolah. Ketiga, E-Nassami, ide ini berupa sistem informasi dan komunikasi transportasi publik di Makassar. Tujuan dari proses inkubasi adalah agar ide yang sudah dibentuk sebelumnya dapat dikembangkan dengan melakukan uji lapangan dan syarat implementasi konsep tersebut dapat digali lebih dalam bersama dengan para stakeholder terkait.

Pada bulan Februari – April 2017 dilaksanakan proses inkubasi. Selama proses inkubasi, tiga tim tersebut sepakat untuk mengintegrasikan 3 solusi ide tersebut menjadi 1 solusi PASIKOLA untuk transportasi anak sekolah yang aman dan sarat dengan nilai edukasi. Sistem informasi E-Nassami akan menyediakan sistem tracking yang memungkinkan orang tua dan sekolah melacak kendaraan dan menerima pemberitahuan pada saat kedatangan dan waktu penjemputan. Selama bulan Maret-April, tim kerja proses inkubasi juga mengembangkan konsep program  termasuk model bisnis dan juga mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk periode piloting/uji coba yang dilaksanakan pada bulan Mei 2017.

Piloting/uji coba pertama dijalankan oleh 4 anggota tim dengan bekerja sama dengan Dishub Kota Makassar, Organda, Dinas Pendidikan dan difasilitasi oleh BaKTI. Empat anggota tim ini sebelumnya terlibat aktif pada workshop Design Thinking dan tahap inkubasi. Piloting pertama dibagi dalam 3 tahap yaitu:

Pilot 1.1:          15 Mei-19 Mei 2017

                        29 Mei-10 Juni 2017

                        1 kendaraan melayani 1 sekolah (SMP)

Pilot 1.2:          24 Juli – 19 Agustus 2017

                        2 kendaraan:  1 kendaraan melayani 1 sekolah (SMP)

                                                Tambahan 1 kendaraan melayani 1 sekolah (SD)

Pilot 1.3:          4 September – 30 September 2017

                        4 kendaraan:  2 kendaraan melayani 1 sekolah (SMP)

                                                2 kendaraan melayani 1 sekolah (SD)

Beberapa kegiatan sebagai tahapan persiapan sebelum pelaksanaan Piloting 1.1 antara lain adalah 

Modifikasi mobil

Dalam Piloting 1.1, tim Pasikola memodifikasi satu petepete regular menjadi angkutan anak sekolah. Pengerjaan mobil petepete itu melalui dua tahap: perbaikan body dan interior mobil.  Item-item perbaikan body dan interior mobil berdasarkan masukan orang tua siswa dan siswa saat proses prototyping dan tahap inkubasi.

Pelatihan pengemudi Pasikola – teori dan on the job training yang melibatkan Dishub Kota Makassar, Organda, psikolog anak, dan pengemudi angkutan antar jemput Athirah.

Koordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Makassar

Dinas Pendidikan Kota Makassar merekomendasikan SMPN 3 Makassar dengan pertimbangan lokasi sekolah ini terletak di kawasan yang rawan macet.  Dalam koordinasi ini juga Dinas Pendidikan Kota Makassar menghubungkan langsung ke pihak sekolah.

Selain tiga kegiatan di atas, pada Piloting 1.1. telah dilakukan juga Koordinasi dengan Pihak SMPN 3 Makassar, Rapat Pemantapan Pasikola, pertemuan dengan Walikota Makassar dan orang tua siswa, serta cek lokasi rumah siswa dan rute penjemputan.

Pada piloting 1.1, aplikasi  sistem informasi E-Nassami Pasikola masih dalam proses pengembangan sehingga sistem tracking masih menggunakan Se Tracker dan Google Maps serta komunikasi via Whatsapp antara tim Pasikola, driver dan orang tua siswa. Harapannya aplikasi E-Nassami Pasikola dapat digunakan pada piloting 1.3.

Pada tanggal 22 Mei 2017, Walikota Makassar juga melaunching Program Pasikola yang dirangkaikan dengan kegiatan Makassar City Expo.

Berikut ini beberapa respon dari siswa dan orang tua siswa yang mengikuti layanan Pasikola pada Piloting 1.1:

Naufal (siswa) mengaku senang bisa ikut mobil Pasikola karena bisa menambah teman-teman baru yang sebelumnya ia tak kenal. Pada awalnya ia hanya mengenal dua orang di antara enam siswa lainnya. Namun, akhirnya ia bisa akrab dan berinteraksi dengan teman-teman baru yang berasal dari kelas lain.

Menurut Fajrin (siswa), selama ikut di mobil Pasikola, ia merasa tenang dan puas karena tidak terlambat masuk sekolah. Ia juga merasa nyaman dan tidak panas ketika berada di mobil. Ia senang dengan cara mengemudi Pak Sudarmin, sang sopir yang tidak ugal-ugalan seperti pengemudi lain. Sebelum ikut, ia sempat trauma dengan pete-pete karena pernah mengalami insiden saat naik pete-pete.

Arul (siswa) menuturkan bahwa ia cukup puas ikut di mobil Pasikola. Untuk layanan yang ada di dalam mobil, secara umum ia mengatakan bagus dan cukup puas, ia bahkan bisa memanfaatkan perjalanan dengan membaca ulang pelajarannya di dalam mobil Pasikola. Ia juga mengatakan bahwa buku-buku yang ada di rak buku cukup bagus, namun Arul memberikan rekomendasi tambahan buku, yaitu buku “Why” atau komik pengetahuan.

Awalnya Ibu Minarni (orang tua siswa) agak ragu untuk mengikutsertakan Aiman anaknya ke dalam Pasikola Piloting 1.1 karena anaknya tak bisa bangun cepat. Seminggu setelah piloting berjalan, Ibu Minarni menyampaikan bahwa anaknya kini bisa bangun lebih cepat. Saat belum bergabung, Aiman paling cepat bangun sekitar pukul 06:30,  setelah bergabung Aiman selalu bangun dan melaksanakan shalat subuh sebelum pukul 06:00 wita.

“Dengan adanya Pasikola, anak saya sudah tidak lagi membawa kendaraan pribadi yang memang seharusnya belum boleh. Semoga Pasikola ini bisa dilaksanakan di sekolah-sekolah lain” M. Syahrir (orang tua siswa).

Tags Berita: 
Indonesian