Memberi masukan signifikan pada agenda pembangunan yang lebih luas

Berita

You are here

 » Kerjasama Lintas Sektor Untuk Asmat Bebas Gizi Buruk
Kerjasama Lintas Sektor Untuk Asmat Bebas Gizi Buruk

Sekitar 130 orang memenuhi Gedung Ja Asamanam Apcamar di Kota Agats yang datang mewakili Organisasi Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Asmat, Tokoh Agama, Tokoh Adat dan Tokoh Perempuan.  Selama dua hari 19-20 Maret 2018, Pemerintah Kabupaten Asmat bekerja sama dengan Program KOMPAK - LANDASAN II mengadakan Semikola Pengembangan Strategi Pencegahan Gizi Buruk Yang Terintegrasi di Kabupaten Asmat.

Kegiatan semiloka ini dibuka oleh Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos dan Perwakilan Kedutaan Besar Australia, Michelle Lowe.  Bupati Asmat  juga duduk sebagai pemateri di hari pertama.  Selain Bupati Asmat juga hadir Direktur Penataan Daerah, Otonomi Khusus dan DPOD Depdagri Dr. Drs. Yusharto H. M.Pd, Antropolog senior UNCEN Prof. Dr.  Johzs R. Mansoben, Rektor UNCEN  Prof. Dr. Apolo Sapanfo, ST, MT yang adalah putra asli Asmat dan Uskup Asmat Mgr. Aloysius Murwoto, OFM yang berbagi pengetahuan dan pengalaman serta perspektif tentang Asmat dari berbagai sudut pandang.

Kabupaten Asmat adalah bagian dari Kabupaten Merauke yang dimekarkan pada Tahun 2002 berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2002.  Saat ini Kabupaten Asmat terdiri dari 23 distrik dengan 139 kampung yang hampir seluruhnya berada di atas rawa-rawa Pesisir Selatan Papua.  Sebagian besar infrastuktur di Agats ibukota Asmat sejak dahulu terbangun dari kayu, namun belakangan ini pemerintah mulai mengganti kayu dengan beton kuat terutama untuk konstruksi jalan, jembatan utama dan pelabuhan laut. 

Tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta atau Jayapura menuju Agats ibu kota Kabupaten Asmat. Perlu transit di Timika atau Merauke kemudian terbang selama 45 menit ke Ewer di mana air-strip berada dengan menggunakan pesawat yang lebih kecil, biasanya jenis Twin Otter atau Grand Caravan (berpenumpang 9-14 orang dan dapat mendarat di landasan pendek).  Sampai di Bandar udara Ewer perjalanan dilanjutkan dengan speedboat berpenumpang 4-6 orang selama kurang lebih 10 menit menuju Pelabuhan Agats.  

Seperti diketahui bersama bahwa pada awal Januari 2018 Kementerian Kesehatan menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk di Asmat.  Kampung As dan Atat paling disorot karena warganya menjadi korban meninggal terbanyak, yakni 31 jiwa dari total 72 korban meninggal.  Tercatat  ada 66 orang meninggal karena penyakit Campak dan 6 orang anak meninggal karena gizi buruk (sumber : Hasil Investigasi Tempo ).  

Bupati Asmat mengatakan bahwa pembangunan di Asmat tidak semudah pembangunan di daerah lain, kondisi geografis menuntut kerja keras dan harus pintar.  Bupati menekankan pentingnya memahami budaya Asmat sebagai dasar pembangunan dan memiliki visi terwujudnya masyarakat Asmat yang maju dan sejahtera serta bermartabat.   Lebih lanjut Bupati mengatakan “Banyak kritik yang dilontarkan oleh berbagai kalangan mengenai persoalan gizi buruk ini, dan sebagai pimpinan saya menerima kritikan dan masukan dari berbagai pihak yang telah memberikan perhatian dan penanganan Kejadian Luar Biasa Campak dan gizi buruk ini, saya percaya setiap masukan dari berbagai pihak memiliki maksud yang baik” menutup sambutannya.

Mewakili Kedutaan Besar Australia, Michelle Lowe (Councellor Bidang Pembangunan Manusia) menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas  sambutan hangat yang diterima-nya beserta rombongan saat menginjakkan kaki di Asmat. “Ini pertamakalinya saya datang ke sini, Asmat memiliki sungai-sungai yang cantik, namun dalam kecantikannya banyak sekali membawa tantangan-tantangan, Pemerintah Australia sudah cukup lama bekerjasama membangun Papua baik dalam bidang pendidikan, bidang kesehatan yang meliputi HIV dan AIDS, Program penyelamatan ibu dan anak, serta program beasiswa pendidikan”.

Pemerintah Australia memiliki program kerjasama dengan Pemerintah Indonesia yang disebut KOMPAK (Kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia), yang secara langsung membawahi Program LANDASAN II di Papua dan Papua Barat.  Hasil diskusi Pemerintah Australia dengan Pemerintah Provinsi Papua, meminta untuk memasukan Kabupaten Asmat sebagai salah satu penerimaan bantuan dalam Program LANDASAN II. “Kami menyambut baik permintaan dari Pemerintah Provinsi Papua, dan merasa ini adalah keputusan yang tepat. Karena tantangan pembangunan di Kabupaten Asmat cukup banyak,  namun di-sisi lain kami merasa mendapatkan dukungan karena Bapak Bupati Asmat dengan jajarannya memiliki keinginan yang sama untuk membangun Asmat.” 

Lebih lanjut dikatakannya bahwa Program LANDASAN II pada Tanggal 20 Maret genap setahun bekerja di distrik Agats, dan telah menunjukkan perkembangan yang cukup bagus. “Hal ini dapat dilihat dari adanya penguatan pada sistem administrasi pemerintahan kampung, penguatan pada kader kampung (desa), penguatan manajeman sekolah, dan saya telah meninjau sekolah SD Inpres Syuru dan saya sangat terkesan dengan kemajuan yang dicapai.”  Menutup sambutannya atas nama Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Michelle Lowe minta melalui lokakarya ini dapat menjadi titik awal dalam menentukan arah penanganan persoalan penanganan gizi buruk di kampung-kampung Asmat.  

Setelah berlangsung selama dua hari, lokakarya menghasilkan beberapa rekomendasi dan rumusan strategi kerjasama untuk pencegahan gizi buruk yang terintegrasi di Kabupaten Asmat.  Salah satunya adalah dengan ditandatanganinya sebuah nota kerjasama kesepahaman antara Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat, yang ditandatangani oleh Donatus Tamot, S.Pd, M.Pd, Kepala Dinas Pendidikan dan dr. Pieter Pajala, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Asmat.  Nota kesepahaman ini mengatur kerjasama dan pembinaan Usaha Kesehatan Sekolah di tingkat Sekolah Dasar dampingan Program LANDASAN II di Distrik Agats, Akat dan Atsj Kabupaten Asmat.  Tujuannya untuk membangun sinergitas program antara Dinas Pendidikan dengan Dinas Kesehatan dalam meningkatkan kualitas peserta didik melalui institusi pendidikan sebagai tempat berlangsungnya proses belajar mengajar sehingga sekolah dapat menjadi "Health Promoting School". Melalui kerjasama lintas sektor ini, diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan bagi murid-murid dalam upaya membentuk generasi Kabupaten Asmat yang berkualitas.

Sebelum lokakarya ditutup diadakan serah-terima dokumen hasil dan rekomendasi lokakarya, yang diserahkan oleh Unit Manager Human Development Kedutaan Besar Australia, Astrid Kartika yang didampingi oleh Team Leader Program LANDASAN II, Don K. Marut, Implementation Manager Program LANDASAN II, George Corputty dan Manager KOMPAK Provinsi Papua & Papua Barat, Hilda Eveline  kepada Bupati Asmat, Elisa Kambu, S.Sos.  Lokakarya ditutup secara resmi oleh Bupati dengan memukul tifa.

KOMPAK-LANDASAN II di Asmat 

LANDASAN II mendukung program Pemerintah Kabupaten Asmat di Bidang Pendidikan Dasar melalui dua kegiatan dalam rangka penguatan kapasitas tata-kelola pendidikan dasar, yaitu Sosialisasi dan Penyusunan Standar Pelayanan Minimum (SPM) “Papua Pu Pendidikan di Kabupaten Asmat,” dan Pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) “Papua Pu MBS.”  Tercatat ada 76 peserta pelatihan dan pendampingan bidang tata-kelola pendidikan dasar, dengan 59 laki-laki dan 17 perempuan penerima manfaat langsung.  

Di bidang kesehatan Program LANDASAN II bekerjasama dengan Dinas Kesehatan telah mengadakan rangkaian pelatihan dan pendampingan di Kabupaten Asmat, diantaranya Pelatihan penyusunan SOP Non-Teknis AKI/AKB dan Malaria, Pelatihan Pendamping penyusunan Perencanaan Tingkat Puskesmas (PTP) terpadu Provinsi Papua, dan Pelatihan juga Pendampingan Penyusunan RUK dan RPK Puskesmas Agats.  Total penerima manfaat langsung dibidang kesehatan adalah 138 orang dengan perincian 56 orang laki-laki dan 82 orang perempuan.  

Pemberdayaan masyarakat kampung (Community Development) untuk meningkatkan tata-kelola pemerintahan kampung yang mandiri dan transparan, dimulai dengan pelatihan kader-kader kampung yang berasal dan dipilih oleh kampung sendiri, pelatihan Sistem Administrasi Informasi Kampung (SAIK) bagi kader kampung, Pelatihan penyusunan RPJMK-Penganggaran Kampung serta Pelatihan Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI) Badan Musyawarah Kampung (BAMUSKAM), serta mekanisme pengaduan dan pelaporan masyarakat kampung. Bidang pemberdayaan masyarakat kampung telah melatih dan mendampingi 152 orang kader kampung, kepala kampung, aparat distrik, BAMUSKAM, tokoh adat, tokoh adat dan tokoh perempuan di Asmat yang terdiri atas 142 laki-laki dan 10 perempuan.   

Pencegahan dan pengendalian HIV & AIDS di Kabupaten Asmat dimulai dengan melatih 24 kader dari 12 kampung dan seorang koordinator Distrik Agats agar memiliki pengetahuan terlibat dalam kampanye pencegahan serta penanggulangan HIV dan AIDS yang dimulai dari kampung.  Kader-kader kampung dilatih untuk menjadi motivator “Jaga Pintu Rumah dari HIV & AIDS” (slogan kampanye HIV & AIDS LANDASAN II).  Selain itu juga diadakan pelatihan dan Lokakarya Tokoh Agama, Tokoh Adat, OPD dan Pemangku Kepentingan dalam rangka memperkuat komitmen penanggulangan HIV dan AIDS di Kabupaten Asmat.  Sejumlah 59 orang penerima manfaat langsung dibidang ini dengan 50 laki-laki dan 9 perempuan.

LANDASAN II bekerjasama sangat erat dengan tokoh agama dan tokoh adat dalam menjalankan kegiatan – kegiatan yang bertujuan memperkuat kapasitas pemerintah daerah (kabupaten, distrik dan kampung) dan pemberdayaan masyarakat kampung. Pastor dan Keuskupan Asmat terlibat dalam persiapan, diskusi-diskusi, serta menjadi fasilitator dalam kegiatan-kegiatan LANDASAN II.  Hal ini sangat memudahkan penerimaan masyarakat karena Pastor – Pastor sangat dipercaya oleh masyarakat dan memiliki dedikasi yang kuat dalam membangun Asmat. Selain itu, pendekatan kepada kepala – kepala adat dan memahami budaya lokal juga menjadi elemen penting dalam pelaksanaan kegiatan LANDASAN II.

Tags Berita: 
Indonesian