Memberi masukan signifikan pada agenda pembangunan yang lebih luas

Berita

You are here

 » Membayangkan Masa Depan di SHOWCASE Be Inspired
Membayangkan Masa Depan di SHOWCASE Be Inspired

Sabtu, 26 Agustus Yayasan BaKTI dengan dukungan Konsulat Jenderal Australia di Makassar menggelar sebuah acara bernama SHOWCASE be Inspired. Kegiatan ini digelar pada Pukul 10 Pagi hingga 03 Sore di Gedung Kesenian Societeit de Harmonie, Makassar.

Sejak pukul 09 Pagi, peserta sudah mulai memadati Gedung Kesenian yang terletak di Jalan Riburane No. 15 Makassar untuk melakukan registrasi

Setelah melakukan registrasi, peserta dapat menikmati beberapa hidangan pagi, seperti kue-kue kecil dan kopi serta dapat bercengkrama dengan peserta lainnya di area mingling. Di area ini juga, peserta dihibur dengan penampilan Disc Jockey Rizkand.

Pukul 10.30 peserta dipersilahkan untuk memasuki ruangan utama. Acara ini dibuka oleh sebuah tarian pembuka oleh wahyu lahang.

  “Pembangkangan tubuh yang tidak akan ada habisnya seiring rangsangan gerak-gerak yang sudah mulai bersolek. Berteriak histeris melalui tubuh-tubuh yang sedang bimbang bukan dengan aksara tapi dengan pergolakan gerak yang mulai letih dengan ketakutan-ketakutan sara hingga sulit terbangun kembali dalam aku. sehebat apapun kita menanggalkan identitas tradisi kita, sehebat itu pula rindu akan membawa kembali ke pelukan dimana tradisi telah meninabobokan, meski tradisi itu tidak akan pernah sama lagi sebab dia tumbuh seiring perjalanan manusia hingga akhirnya dia akan menua. Tubuh ini hanya ingin tinggal dirumah yang sama dengan gerak dari nyanyian leluhur yang samar-samar telah pudar oleh warna-warni hitam.” demikian Wahyu menggambarkan tarian tersebut.

***

SHOWCASE  menghadirkan 5 pembicara muda inspiratif dan inovatif yang mengajak seluruh peserta bersama-sama membayangkan masa depan. Setiap pembicara diberi waktu masing-masing 15 menit untuk menyajikan ide-ide luar biasa mereka. Ini  adalah waktu yang cukup panjang untuk menyajikan sebuah ide yang signifikan, tapi cukup singkat untuk menarik perhatian peserta dan juga mudah untuk disaksikan melalui internet.

Violet Rish “A Utopia for my daughter”

Pembicara pertama adalah Violet Rish, seorang warga negara Australia yang telah lama bekerja di Indonesia. Materi yang dibawakannya berjudul “A Utopia for my daughter” yang menggambarkan sebuah masa depan untuk putrinya. Ibu dari seorang bayi berumur 1 tahun ini, membayangkan masa depan yang mencakup Rumah, Energi Transportasi dan Pekerjaan yang nantinya akan digunakan oleh putrinya ketika berumur 20 tahun nanti.

Imran Lapong

Setelah Violet, ada Imran Lapong, seorang Biologist yang telah lama meneliti tentang red seaweed. Lulusan Fakultas Ilmu Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Hasanuddin dan James Cook University, Australia ini menerangkan bahwa petani rumput laut adalah anggota dari apa yang bisa kita sebut "komunitas biru" di mana mata pencaharian berwawasan lingkungan dan memiliki nilai tambah bagi konservasi.

Namun, Imran menjelaskan bahwa pasar belum menilai aktivitas ini. Lebih lanjut, fakta dari FAO menyatakan bahwa produksi red seaweed dunia adalah 27 juta ton/tahun. Dari angka tersebut, Indonesia menghasilkan 11 juta ton/tahun. Sehingga idenya adalah, menemukan produk keuangan yang menangkap nilai lingkungan dari rumput laut dan mengirimkannya kembali ke masyarakat. Nilai ini dapat dihitung melalui pembandingan dengan teknologi yang ada untuk mengobati nitrogen dan karbon.

“Apabila keduanya digabungkan, Blue Economy (Komunitas Biru) dan Red seaweed (alga merah) = Indigo Indonesia, Saya berimaginasi bahwa wacana ini sangat menjanjikan dan tidak lama lagi dapat terwujud sehingga jika ada pepatah mengatakan bahwa Masa depan kita ada di laut memang benar adanya” Ungkap Imran, menutup pemaparannya.

Mansyur Rahim

Pembicara ketiga adalah Mansyur Rahim yang saat ini mengembangkan ide Pasikola atau Pete-pete Anak Sekolah. Ide ini muncul disebabkan perkembangan kota yang semakin pesat mengubah jalanan Makassar sehingga jalanan dan penggunanya tak lagi ramah. Adanya Pasikola, diharapkan dapat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dalam hal antar jemput anak sekolah demi mengurai titik-titik kemacetan pada jam masuk dan pulang sekolah. Pasikola ini adalah partisipasi warga untuk menemukan dan menciptakan inovasi transportasi publik yang menyenangkan.

Sesi pertama diakhiri dengan penampilan dari dakkochank “Nadya dan Tenri” Band Indie asal makassar yang beraliran pop jazz.

Sesi kedua dilanjutkan setelah makan siang, sesi ini menampilkan 2 pembicara.

Andy Hilmy

Pembicara pertama pada sesi ini adalah Andi Hilmy, seorang mahasiswa asal Pangkep yang juga merupakan founder dan CEO dari perusahaan pengolahan minyak biodiesel Genoil. Hilmy berbicara tentang penggunaan minyak Jelantah sebagai bahan bakar yang murah dan ramah lingkungan untuk kapal nelayan. Ide Hilmy berawal dari banyaknya minyak sisa penggorengan masih disalahgunakan karena kurangnya perhatian.  Pemanfaatan minyak jelantah dari sektor komersil dan rumah tangga menjadi biodiesel akan menimbulkan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan dan kesehatan keluarga.

Selain mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel, perusahaan Genoil milik Hilmy juga memberdayakan lebih dari 30 mantan preman untuk mengumpulkan minyak bekas dengan penghasilan lebih dari satu juta rupiah perbulan. Minyak tersebut kemudian didistribusikan kepada nelayan yang seringkali kesulitan mendapatkan bahan bakar untuk kapalnya.

Tagline yang diserukan Andi Hilmy adalah, “Tak ada limbah, tak ada yang tersisa”.

Yandi Laurens

Pembicara terakhir merupakan seorang sutradara yang lahir dan besar di Makassar dan saat ini aktif menjadi pengajar di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia adalah Yandi Laurens yang mendapatkan penghargaan Gold Awards Indonesia di DigiCon6 Asia 18th di Jepang lewat Film Friend (2015).

Pada SHOWCASE, Yandi mencoba meningkatkan kesadaran semua orang bahwa kesenian yang seringkali dikesampingkan dan dipandang sebelah mata dibandingkan bidang lainnya seperti matematika dan sains, sebenarnya memegang peranan penting dalam membentuk masa depan. Hal ini karena kesenian dapat membuat kita optimis, berinovasi, menghargai proses, berapresiasi dan dapat menyeimbangkan pikiran kita tentang dunia.

Pemenang Piala FFI 2012 kategori film terbaik ini juga menggambarkan bahwa kesenian adalah sesuatu yang dapat membuat orang lain sadar dan bergerak serta dapat memberi ruang terhadap perbedaan. Hal-hal tersebut merupakan hal yang sangat penting untuk membentuk kehidupan di masa depan.

SHOWCASE ditutup dengan penampilan Rizcky de Keizer, seorang vokalis sekaligus basis grup band “Rizcky and the strangers” yang beraliran Pop Rock. Namun dalam penampilannya di SHOWCASE, Rizcky tampil menggunakan konsep One Man Show.

Acara ini terbuka untuk umum dan untuk mengikuti seluruh rangkaian acara para peserta tidak dipungut biaya. Karena misi utama SHOWCASE adalah menyebarkan ide-ide luar biasa ke khalayak luas.

Showcase menghadirkan pembicara inspiratif muda yang juga iniovatif dan peduli dengan turun tangan langsung, memberikan ide-ide kritisnya serta membuat perubahan untuk kota ini. Semua pembicara sama-sama keren dan menginspirasi” Ungkap Fajriyah, salah satu peserta SHOWCASE.

Sepanjang acara, seluruh presentasi akan direkam dengan kualitas produksi TV. Segera setelah acara, semua paparan ide tersebut akan diunggah ke media online sehingga dapat menangkap audience yang lebih banyak lagi.

Walaupun SHOWCASE pertama kali diadakan di Makassar, namun acara ini juga dapat diselenggarakan di tempat lain oleh siapa saja yang memiliki misi yang sama: menyebarkan ide-ide luar biasa ke khalayak luas.

 

Tags Berita: 
Indonesian