Menjalankan proyek perintis dan mereplikasi
berbagai inisiatif pembangunan yang sesuai dengan daerahnya

Berita

You are here

 » Penyusunan modul Papua Pu Pembangunan
Penyusunan modul Papua Pu Pembangunan

Tahapan penyusunan modul sudah diawali dengan beberapa kali rangkaian kegiatan, antara lain penyusunan tahap awal pada Bulan Mey 2017 di Kabupaten Sorong, baik untuk modul pendidikan, kesehatan, HIV / AIDS dan Kampung lalu dirangkaikan dengan tahapan pelatihan di 10 kabupaten mitra (Provinsi Papua dan Papua Barat) dan sekaligus untuk mendapatkan masukan sebagai tahapan untuk perbaikan sehingga pada tahapan ini kita menfinalisasi modul dengan narasumber baik dari penyusun dan pengguna modul (internal) maupun konsultan luar (external) agar hasil capaian dalam modul dapat terukur dan layak dipergunakan di tanah Papua, baik oleh program KOMPAK LANDASAN II maupun Lembaga mitra pembangunan lainnya, demikian penyampaian dari Ibu Hilda Evaline (Provincial Manajer Provinsi Papua dan Papua Barat) di Hotel Frontone, 28 Agustus 2018.
Target kedepan dari tahapan finalisasi modul ini salah satunya adalah dimasukkannya hasil temuan dari proses pelatihan yang dilakukan berdasar atas modul yang telah disusun dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sehingga diharapkan dari para narasumber yang berasal dari berbagai unsur (Universitas Negeri Malang, Universitas Cendrawasih, LPMP Papua dan Papua Barat, Pengawas serta NGO) dapat menjadi nilai tambah untuk peningkatan kualitas tata kelola pendidikan di tanah Papua.
Pak James Modouw (Staf ahli Pendidikan pusat dan daerah) pada kesempatan tersebut mengapresiasi kegiatan yang dilakukan “Yang datang menyusun dan menfinalisasi modul adalah para tenaga yang ekspert di bidangnya, sehingga saya melihat bahwa desain program dari mitra pembangunan KOMPAK LANDASAN yang mengedepankan kontekstual Papua serah dengan pola kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah seperti yang tertuang dalam inpres 19 Tahun 2017”. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) ukurannya sangat normatif dan sifatnya secara umum. Dengan demikian, yang diharapkan adalah sistem pendekatan yang digunakan oleh Program KOMPAK LANDASAN dapat diterapkan termasuk dalam pemberlakuan Kurikulum 13. Karena sampai saat ini pemberlakuan K13 belum ada rujukan dalam konteks local.
Partisipasi masyarakat di tanah Papua menjadi tantangan tersendiri, untuk sekolah modern saat sekarang ini tanggung jawab penuh pendidikan masih dipandang sebagai tanggungjawab sekolah. Tindakan yang harus dilakukan adalah harus ada desain atau pendekatan tentang pelibatan masyarakat jadi perlu ada ruang-ruang adaptasi sehingga tidak ada sifat pembatasan.
Model atau gaya kepemimpinan harus juga dipandang sebagai peluang dalam peningkatan mutu dan layanan sekolah sehingga dapat berjalan dengan baik karena kalau hal tersebut berjalan sebagaimana yang diharapkan maka akan terjadi kemandirian kemudian membuka komitmen kelembagaan antara pemangku kepentingan.
Dengan demikian, model-model pengembangan modul kontekstual akan menjadi bagian integral dari proses pembangunan pendidikan yang sementara berjalan terutama menyangkut layanan dasar yang berpusat pada penerima manfaat (siswa). Sebagai suatu gambaran persoalan yang terjadi di Kabupaten Asmat bukan semata-mata karena faktor kesehatan tetapi strategi layanan yang tidak berjalan dengan baik. Kondisi yang terjadi sekarang di tanah Papua adalah banyak sekarang orang luar yang datang dari berbagai bangsa-bangsa dengan dasar dorongan karena kekayaan sumber daya alam yang melimpah bukan karena melihat dari sisi manusianya. Hal ini menyebabkan sifat, karakter tentang ketidakadilan menjadi sangat dominan. Kedepannya dengan adanya kesiapan yang dimulai dari penyediaan modul kontekstual sesuai kearifan lokal Papua maka akan terjadi perbaikan indikator pendidikan yang bermuara pada perbaikan mental manusianya. Persoalan manusia bukan hanya menjadi mentalitas manusia luar Papua akan tetapi juga oleh mental-mental penduduk (Orang Asli Papua) pada berbagai level atau tingkatan masyarakat.
Pembangunan selama ini belum berfokus pada manusianya, selama ini yang terjadi adalah pembangunan yang beroriantasi kelembagaan, membangun simbol-simbol, membangun kemegahan dan tidak berfokus pada mental spiritual penerima pembangunan (anak). Kondisi ini selalu dianalogikan bahwa uang yang tersebar di Papua sangat banyak tetapi tidak berbanding searah dengan capaian, misalnya tentang perubahan mental.
Program KOMPAK LANDASAN dengan kerangka pendekatan yang digunakan “Koloborasi, Terintegrasi, Kearifan Lokal” seharusnya dan khususnya tentang pendidikan harus beroriatasi pada apa manfaat yang diterima oleh anak bukan berdasar atas makna-makna simbolik.
Kerangka modul yang ada dan sudah siap untuk digunakan, yaitu: Modul Standar Pelayanan Minimal (SPM) Papua Pu Pendidikan, Modul Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Papua Pu Pendidikan, Modul Pembentukan / Revitalisasi Papua Pu Pendidikan, Modul Penguatan Komite Sekolah Papua Pu Pendidikan dan Modul Penguatan pengawas dan Kepala Sekolah Papua Pu Pendidikan sudah dapat dijadikan rujukan oleh KEMENDIKBUD dengan mengeluarkan kebijakan tentang Pendidikan berbasis kontekstual.

Tags Berita: 
Indonesian