Memberi masukan signifikan pada agenda pembangunan yang lebih luas

Berita

You are here

 » Pesta Rakyat: Seni dan Budaya Adalah Bagian dari Pembangunan
Pesta Rakyat: Seni dan Budaya Adalah Bagian dari Pembangunan
Sore itu langit Kota Palu mendung. Satu bagian dari Festival Forum Kawasan Timur Indonesia baru saja ditutup. Bagian ke dua akan mulai beberapa jam ke depan. Panggung Pesta Rakyat, akan berlangsung di Anjungan Pantai Talise. Setelah beberapa hari ada di Kota Palu, sore di Pantai Talise kelihatannya selalu berangin kencang. Tapi persiapan terakhir  ajang yang mementaskan ekspresi seni budaya Kawasan Timur Indonesia, terutama dari daerah Sulawesi Tengah terus berjalan. 
 
Panggung luas setinggi dua meter yang memenuhi sisi  Barat Anjungan  Talise, sudah siap dengan lampu-lampu sorot dan sound system. Layar monitor besar, seperti yang biasa digunakan pada konser-konser open air band terkenal. Megah. Panggung inilah yang akan menjadi ‘wilayah’ kemeriahan pembangunan dan berbagai insipirasi di dalamnya, malam itu.  Di sisi Utara dan Selatan Anjungan, ada tenda berisi kursi untuk para tamu Festival Forum Kawasan Timur Indonesia. Ada juga lesehan dari kayu di depan panggung. 
 
”Seni dan budaya juga bagian dari pembangunan,”  ujar Caroline Tupamahu, Direktur Eksekutif Yayasan BaKTI. Inilah alasan kenapa Pesta Rakyat menjadi rangkaian acara yang melekat pada Festival Forum Kawasan Timur Indonesia. Sesungguhnya seni dan budaya sebuah masyarakat bukan hanya Tari dan Musik Tradisi, tapi ragam ekspresi masyarakat yang memuliakan budi,  sehingga lewat Pesta Rakyat masyarakat kota Palu berkesempatan merekam kebanggaan dan semangat untuk terus berkarya membangun daerah, sebab Panggung Pesta Rakyat adalah gambaran dari kemampuan masyarakat Sulawesi Tengah, membangun diri lewat seni dan budaya,“ imbuh Caroline. 
 
Malam itu, tamu-tamu Festival Forum Kawasan Timur Indonesia disambut dan dijamu oleh Pemerintah Kota Palu. Kedatangan para tamu disambut dengan Umo’ara –tarian yang mengelu-elukan pahlawan dari Suku Tolaki. Setelah kata-kata sambutan dari Bapak Walikota Palu berbagai jamuan kuliner khas Sulawesi Tengah disuguhkan, mulai dari Kaledo yang ditemani rebusan ubi kayu, sampai Sambel Goreng Penja, sejenis ikan teri khas Sulteng.  Ada kari domba ekor bundar sampai olahan bunga papaya dicampur kangkung. Melengkapi kemeriahan dan keakraban Pesta Rakyat di Anjungan Pantai Talise, pemerintah kota menyiapkan gerobak-gerobak penjual bakso, gratis untuk masyarakat.  
 
Sebuah film dokumenter yang dikerjakan lewat kolaborasi Rumah Ide dengan komunitas pembuat film di Kota Palu, merupakan lemparan pertama benang melintang pada alat tenun. Film ini merekam kehidupan seorang ibu yang sedang membesarkan anaknya. Cita-cita dan harapannya. Yang istimewa, anaknya adalah pembawa Sindrom Wajah Seribu. 
 
Mengantar lepasnya (judul film....) dari tayangan, Modero Ensamble Palu menyampaikan narasi persatuan lewat karya musik Ndua Ndua. Komposisi kelompok musik ini dibangun dengan alat musik tradisional Sulawesi Tengah. Pemusiknya pun datang dari latar belakang profesi yang beragam: ada pegawai negeri, ada tukang kayu, ada dosen, ada pedagang. Masih dalam narasi persatuan, Mapase’re Ada’ adalah lemparan benang berikut dalam Panggung Pesta Rakyat Festival Forum Kawasan Timur Indonesia. Tarian tentang penyatuan adat di Sualwesi Tengah ini, hadir dan membawa atmosfir spritual tentang tuturan dari para leluhur. Karya tari ini disuguhkan oleh Sanggar Nomore, Palu. 
 
Komposisi antara tari dan musik juga diisi dengan pembacaan karya sastra. Pembacaan karya sastra oleh Wakil Wali Kota Palu merekam kegamangan orang gunung terhadap perubahan. 
 
Tari Sarung Donggala, Tari Nusantara, beberapa nomer lagu dalam bahasa Makassar oleh penyanyi Sese Lawing, dan sebuah kolabarasi musikalisasi puisi  Beri Daku Sumba, Taufik Ismail, bersama peserta Festival Forum Kawasan Timur Indonesia.
 
Kebersamaan memahami pentingnya persatuan dan mengerjakan perubahan adalah semangat yang menular ketika dero. Para tamu bergabung menari berpegangan tangan, mengikuti irama musik. 
 
Malam menggantung di Anjungan Pantai Talise, ketika para insiprator Festival Forum Kawasan Timur Indonesia kembali ke penginapan. Beberapa orang berjalan sambil mendengung:  ’harus ada perubahan.. harus ada perubahan’. Bagian dari lirik lagu Nyanyian Kemiskinan, Franky Sahilatua. Nyanyian ini akan jadi alasan untuk terus merajut insipirasi dari Timur, sebagai persembahan untuk Indonesia. 
Indonesian