Saling belajar dalam meningkatkan kualitas program
dan bekerja sama menyelaraskan upaya pembangunan

Berita

You are here

 » Workshop Pencegahan dan Pengendalian HIV AIDS
Workshop Pencegahan dan Pengendalian HIV AIDS
Manokwari (09/08) – Pemerintah Provinsi dan kabupaten di Papua Barat melalui Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dengan dukungan mitra pembangunan terkait sedang menggalang komitmen bersama dan menyusun road map pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS di Provinsi Papua Barat.  
 
Bertempat di Hotel Aston Niu Manokwari selama dua hari sejak 09 hingga 10 Agustus 2017 para pemangku kepentingan mulai dari pusat melalui Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi hingga Kabupaten di Papua Barat, perwakilan DPRD provinsi dan kabupaten di Papua Barat, Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang HIV-AIDS, Komisi Penanggulangan HIV-AIDS daerah, unit layanan Rumah Sakit hingga Puskesmas, Tokoh Agama dan Tokoh Adat, Tokoh Wanita, mitra pembangunan dan instansi atau organisasi lintas sektor lainnya.  Sebagai keynote speaker pertama adalah dr. HM Subuh, MMPM Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan RI yang memaparkan materi tentang Kebijakan Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS dan Malaria Nasional, kemudian keynote speaker berikutnya dr. Nafsiah Mboi, SPA, MPH Mantan Menteri Kesehatan dan Mantan Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Nasional yang berbicara tentang Percepatan Eliminasi Malaria, Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS dan Malaria.   
 
 
Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, dalam sambutannya sebelum membuka acara workshop mengatakan “Ada dua provinsi di Indonesia, yaitu Provinsi Papua dan Papua Barat yang berdasarkan Survey Terpadu Biologis dan Perilaku tahun 2013, dikategorikan sebagai daerah dengan epidemi Meluas dengan prevalensi 2,3%.  Ini berarti bahwa setiap 100 penduduk di Tanah Papua diprediksi akan ada 2-3 penderita HIV.  Angka prevalensi yang sangat tinggi ini masih sangat jauh dari target nasional yaitu  0,5% pada tahun 2019”.   Lebih jauh Gubernur menegaskan bahwa tingkat prevalensi setinggi 2,3% menunjukkan bahwa penyebaran HIV sudah sampai ke masyarakat umum (generalized epidemic). Hingga saat ini,  telah terlaporkan 6.369 kasus HIV-AIDS dan  sebanyak 838 diantaranya sudah meninggal. Bila estimasi penemuan kasus HIV sebesar 20.000 kasus, ini berarti baru sekitar 30% kasus yang berhasil ditemukan, dan lebih kurang 70% kasus belum berhasil ditemukan.
 
Workshop ini bertujuan memberikan informasi terkini tentang kebijakan dan strategi pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS di Indonesia, melihat kembali pembelajaran dari penerapan kebijakan, program dan praktek-praktek baik dalam Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS oleh pemerintah, lembaga swadaya masyarakat maupun lembaga internasional di Provinsi Papua Barat.  Melihat pentingnya pendekatan penanganan HIV yang sesuai dengan konteks epidemic dan struktur sosial budaya (termasuk struktur keagamaan) di Tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat), maka dalam workshop ini juga akan merumuskan prioritas kegiatan, target serta strategi pencegahan dan pengendalaian HIV-AIDS.  Salah satu hasil penting dari kegiatan ini adalah ditandatanganinya sebuah “Komitmen Papua Barat dalam Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS” oleh Gubernur dan para Bupati se-Papua Barat yang hadir dalam workshop.  Komitmen bersama ini berisi enam komitmen upaya pencegahan dan pengendalian epidemi HIV-AIDS di Tanah Papua dan khususnya di Provinsi Papua Barat.  
 
Sebagai daerah dengan epidemi HIV meluas dengan prevalensi (angka kejadian pada waktu tertentu pada populasi tertentu) HIV sebesar 2,3%, Tanah Papua menghadapi tantangan yang berat dalam pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS.  Laporan surveilans kasus HIV-AIDS menyebutkan tercatat 26.973 kasus di Provinsi Papua (hingga Desember 2016) dan sebanyak 6.497 kasus di Provinsi Papua Barat (per Juni 2016), dengan sebagian besar cara penularan adalah melalui transmisi heteroseksual (97%). Proporsi perempuan yang terinfeksi HIV lebih tinggi dari pada laki-laki (berlawanan dengan proporsi jenis kelamin secara nasional), yang menguatkan bukti bahwa epidemi HIV telah meluas pada populasi umum.  Berbagai upaya telah dilaksanakan dan banyak diantaranya yang telah menunjukkan keberhasilan. Tampak dari makin tingginya cakupan Tes HIV dan jumlah ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) yang mendapatkan Antiretroviral Therapy (ART). 
 
Pada saat ini KOMPAK bersama mitra pelaksana Yayasan BaKTI (Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) melalui Program KOMPAK-BaKTI LANDASAN II dan stakeholder terkait sedang mendukung pemerintah di Papua Barat dalam upaya meningkatkan kapasitas dan kualitas kerja unit-unit layanan dan kampung pada bidangnya masing-masing. Melalui program yang mengintegrasikan HIV-AIDS di dalam unit layanan dan kerja kampung, dan penguatan distrik sebagai pusat koordinasi kawasan dan integrasi kerja unit layanan, maka distrik pun diperkuat sebagai pusat yang menggerakkan pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS.  Penguatan sistem dan keterlibatan masyarakat untuk pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS yang merupakan salah satu komponen utama program ini, diharapkan dapat menjadi suatu gerakan kolektif yang luas dan memberi dampak sistemik dan positif di Tanah Papua.  
 
Workshop Pencegahan dan Pengendalian HIV-AIDS Provinsi Papua Barat ini merupakan salah satu langkah awal dari serangkaian program pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS di Tanah Papua yang merupakan komponen penting dalam Program KOMPAK-BaKTI LANDASAN II di Tanah Papua yang didukung oleh Pemerintah Australia dan Pemerintah Indonesia melalui KOMPAK (Kemitraan Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan). 
 
Tags Berita: 
Indonesian