Berita BaKTI
  • admin
  • 25 July 2017

ADB Sees Improved Growth Prospects for Developing Asia

MANILA, PHILIPPINES (20 July 2017) — Economic growth prospects in developing Asia for 2017 have improved on the back of stronger-than-expected export demand in the first quarter of this year, according to a new Asian Development Bank (ADB) report.

In a supplement to its Asian Development Outlook 2017 report, ADB upgraded its growth outlook in the region from 5.7% to 5.9% in 2017 and from 5.7% to 5.8% for 2018. The smaller uptick in the 2018 rate reflects a cautious view on the sustainability of this export push.

"Developing Asia is off to a good start this year with improved exports pushing growth prospects for the rest of 2017," said Yasuyuki Sawada, ADB’s Chief Economist. "Despite lingering uncertainties surrounding the strength of the global recovery, we feel that the region’s economies are well-placed to face potential shocks to the outlook."

Combined growth for the major industrial economies is forecast to remain at 1.9% in 2017 and 2018. Improved forecasts for the euro area and Japan due to robust domestic demand have offset the slight growth downturn in the US to 2.2% from the previously projected 2.4% as a result of disappointing first quarter results in 2017.

By subregion, growth for East Asia is revised upward to 6.0% in 2017 and 5.7% in 2018 from the original projections of 5.8% and 5.6%, respectively. After recent growth moderation, an increase in net exports and domestic consumption has improved growth prospects in the People’s Republic of China (PRC). The world’s second largest economy is now expected to expand by 6.7% in 2017 and 6.4% in 2018.

South Asia will remain the fastest growing of all subregions in Asia and the Pacific, with growth on track to meet original projections of 7.0% in 2017 and 7.2% in 2018, according to the report. India — the subregion’s largest economy — is expected to achieve previous growth projections of 7.4% in 2017 and 7.6% in 2018, primarily from strong consumption.

Growth projections for Southeast Asia are expected to remain at 4.8% in 2017 and 5.0% in 2018, with accelerating growth for Malaysia, the Philippines, and Singapore, although this trend is slightly dampened by the slower-than-anticipated expansion in Brunei Darussalam. Robust domestic demand — particularly private consumption and investment — will continue to support growth in the subregion, according to the report.

The outlook for Central Asia this year has also improved as stronger domestic demand and exports in some countries have fueled an unexpected recovery in the subregion. Growth is expected to reach 3.2% in 2017 and 3.8% in 2018 compared to the 3.1% and 3.5% original projections, respectively.

Growth in the Pacific is expected to remain at 2.9% in 2017 and 3.3% in 2018 with Papua New Guinea — the subregion’s largest economy — continuing its gradual recovery due to rebounding mining and agriculture industries. Stronger tourism prospects are also expected to drive growth further in the subregion, particularly in Fiji and Palau.

Consumer price inflation in the region, meanwhile, is projected to be lower from the previous estimate on the back of steady international oil and food prices despite increasing demand due to enough supplies and favorable weather conditions. Price inflation is now expected to drop to 2.6% in 2017 and 3.0% in 2018 compared to the original projections of 3.0% and 3.2%, respectively.

ADB, based in Manila, is dedicated to reducing poverty in Asia and the Pacific through inclusive economic growth, environmentally sustainable growth, and regional integration. Established in 1966, ADB is celebrating 50 years of development partnership in the region. It is owned by 67 members—48 from the region. In 2016, ADB assistance totaled $31.7 billion, including $14 billion in cofinancing.

Link to the news release: https://www.adb.org/news/adb-sees-improved-growth-prospects-developing-asia
Link to the Report: https://www.adb.org/publications/ado-supplement-july-2017

***

Prospek Pertumbuhan Kawasan Asia Berkembang Kian Meningkat

MANILA, FILIPINA (20 Juli 2017) — Prospek pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia yang berkembang pada 2017 meningkat berkat permintaan ekspor yang lebih besar daripada perkiraan di kuartal pertama tahun ini, demikian menurut laporan baru dari Asian Development Bank (ADB).

Dalam laporan tambahan bagi Asian Development Outlook 2017, ADB menaikkan proyeksi pertumbuhan kawasan ini dari 5,7% menjadi 5,9% pada 2017, dan dari 5,7% menjadi 5,8% pada 2018. Kenaikan yang lebih kecil pada proyeksi 2018 mencerminkan pandangan yang berhati-hati terkait keberlanjutan dorongan ekspor tersebut.

"Kawasan Asia yang sedang berkembang mengawali tahun ini dengan baik, karena peningkatan ekspor mendorong prospek pertumbuhan seterusnya sepanjang 2017," jelas Yasuyuki Sawada, Ekonom Kepala ADB. "Meskipun masih ada ketidakpastian mengenai seberapa kuatnya pemulihan ekonomi global, kami berpandangan bahwa perekonomian kawasan ini siap menghadapi kemungkinan jika proyeksi tersebut meleset."

Secara keseluruhan, pertumbuhan perekonomian industri besar diperkirakan akan tetap pada 1,9% pada 2017 dan 2018. Membaiknya prakiraan di kawasan Uni Eropa dan Jepang adalah karena kuatnya permintaan domestik, sehingga mampu mengimbangi penurunan tipis pertumbuhan di Amerika Serikat menjadi 2,2% dari yang sebelumnya diproyeksikan sebesar 2,4%, akibat angka pertumbuhan kuartal pertama 2017 yang mengecewakan.

Menurut sub-kawasan, proyeksi pertumbuhan Asia Tenggara diperkirakan tetap sebesar 4,8% pada 2017 dan 5,0% pada 2018, dengan akselerasi pertumbuhan di Malaysia, Filipina, dan Singapura, meskipun tren ini sedikit tertahan akibat pertumbuhan di Brunei Darussalam yang lebih lemah dari harapan semula. Permintaan domestik yang kuat — terutama pengeluaran rumah tangga dan investasi — akan terus menopang pertumbuhan sub-kawasan ini, menurut laporan tersebut.

Pertumbuhan di Asia Timur direvisi meningkat hingga 6,0% pada 2017 dan 5,7% pada 2018, dari proyeksi awal masing-masing 5,8% dan 5,6%. Setelah pertumbuhannya melambat baru-baru ini, kenaikan ekspor bersih dan konsumsi domestik telah mendongkrak prospek pertumbuhan di Republik Rakyat Tiongkok. Perekonomian terbesar kedua di dunia ini kini diperkirakan akan tumbuh 6,7% pada 2017 dan 6,4% pada 2018.

Asia Selatan masih menjadi sub-kawasan yang tumbuh paling cepat dari antara semua sub-kawasan di Asia dan Pasifik, dengan pertumbuhan yang mampu mencapai proyeksi awal 7,0% pada 2017 dan 7,2% pada 2018, menurut laporan tersebut. India — perekonomian terbesar di sub-kawasan ini — diperkirakan mampu mencapai proyeksi pertumbuhan sebelumnya sebesar 7,4% pada 2017 dan 7,6% pada 2018, terutama karena tingkat konsumsi yang kuat.

Proyeksi untuk Asia Tengah tahun ini juga membaik seiring menguatnya permintaan domestik dan ekspor di sejumlah negara sehingga membawa pemulihan tak terduga bagi sub-kawasan ini. Pertumbuhan diperkirakan dapat mencapai 3,2% pada 2017 dan 3,8% pada 2018, dibandingkan dengan proyeksi awal masing-masing sebesar 3,1% dan 3,5%.

Pertumbuhan di Pasifik diperkirakan tetap sebesar 2,9% pada 2017 dan 3,3% pada 2018 dengan Papua Nugini — perekonomian terbesar di sub-kawasan ini — melanjutkan pemulihannya secara perlahan berkat membaiknya industri pertambangan dan pertanian. Prospek pariwisata yang lebih baik juga diperkirakan akan mendorong pertumbuhan lebih lanjut di sub-kawasan ini, terutama di Fiji dan Palau.

Sementara itu, inflasi harga konsumen di Asia dan Pasifik diproyeksikan lebih rendah daripada perkiraan sebelumnya, karena stabilnya harga minyak dan pangan internasional, meskipun ada kenaikan permintaan, berkat cukupnya pasokan dan kondisi cuaca yang bersahabat. Inflasi harga saat ini diperkirakan akan menurun ke 2,6% pada 2017 dan 3,0% pada 2018, dibandingkan dengan proyeksi awal masing-masing sebesar 3,0% dan 3,2%.

ADB, yang berbasis di Manila, dikhususkan untuk mengurangi kemiskinan di Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pertumbuhan yang menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan integrasi kawasan. Didirikan tahun 1966, ADB telah menandai 50 tahun kemitraan pembangunan di kawasan ini. ADB dimiliki oleh 67 anggota—48 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik. Pada 2016, total bantuan ADB mencapai $31,7 miliar, termasuk $14 miliar dalam bentuk pembiayaan bersama (cofinancing).

Tautan ke siaran pers: https://www.adb.org/id/news/adb-sees-improved-growth-prospects-developing-asia?
Tautan ke Laporan: https://www.adb.org/publications/ado-supplement-july-2017