Diskusi Kelompok Terfokus Program KONEKSI di Provinsi Maluku

“Isu kelautan dan perikanan di Provinsi Maluku sebagai wilayah dengan area laut yang lebih luas dari daratan (92%) merupakan isu potensial untuk menjadi fokus penelitian. Hal ini karena di dalam prosesnya akan selalu ditemukan kebaruan yang dapat menjadi nilai tambah bagi peneliti.” Demikian salah satu poin yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Alex Retraubun. MSc dalam sambutannya saat pelaksanaan Diskusi Kelompok Terfokus (FGD) Jaringan Peneliti Provinsi Maluku. Prof. Alex yang juga merupakan guru besar Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Pattimura Ambon hadir dalam kapasitasnya sebagai akademisi sekaligus Pembina Yayasan BaKTI. Dalam sambutannya ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dan berjejaring antar peneliti dari disiplin ilmu yang berbeda yang secara garis besar dapat memperkuat kemandirian, mengatasi kesenjangan antar wilayah, serta mengefektifkan kebijakan publik di Maluku.

Maluku adalah provinsi ketujuh pelaksanaan sosialisasi dan diskusi kelompok terfokus yang dilaksanakan BaKTI bekerjasama dengan program KONEKSI. Sebelumnya telah dilaksanakan kegiatan serupa di enam provinsi yakni di Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Papua, Gorontalo dan Nusa Tenggara Timur. Diskusi sekaligus sosialisasi ini dilaksanakan di Kota Ambon pada tanggal 17 Juli 2024 bertempat di Hotel Swiss Bell Ambon.


Ibu Jana Herts, Team Leader Program KONEKSI, dalam sambutannya ia memperkenalkan Program KONEKSI beserta layanannya dimana pengembangan Jaringan Peneliti Indonesia Timur masuk dalam layanan pembentukan hubungan dan koalisi. Menurutnya latar belakang kegiatan pelaksanaan FGD adalah pembentukan hubungan dan koalisi yang diharapkan menghasilkan jaringan peneliti di kawasan timur Indonesia terkait dengan penelitian agar dapat berbagi informasi, data dan melakukan advokasi bersama.

FGD dilaksanakan dalam bingkai program Pengembangan Jaringan Peneliti Indonesia Timur kerjasama BaKTI dan KONEKSI. Sebanyak 55 peserta hadir dalam kegiatan ini, 41 di antaranya adalah peneliti dari berbagai universitas, NGO dan lembaga penelitian di Provinsi Maluku. Mereka bertemu dan berdiskusi dalam kegiatan sosialisasi dan FGD yang dilaksanakan BaKTI bekerjasama dengan program KONEKSI (Kolaborasi untuk Pengetahuan, Inovasi, dan Teknologi Australia dan Indonesia). KONEKSI adalah inisiatif kolaboratif di sektor pengetahuan dan inovasi yang mendukung kemitraan antara organisasi Australia dan Indonesia untuk kebijakan dan teknologi yang inklusif dan berkelanjutan. Didukung oleh Pemerintah Australia dan Indonesia, Program ini mempromosikan kemitraan pengetahuan yang setara dan memanfaatkan pengetahuan lokal untuk mengatasi tantangan sosial-ekonomi.

FGD sekaligus sosialisasi ini bertujuan untuk memperkenalkan program KONEKSI, membentuk jaringan peneliti Maluku serta untuk berdiskusi bersama peneliti-peneliti terkait empat tema besar yakni isu strategis yang dihadapi di Provinsi Maluku dan menjadi tema penelitian peneliti, penerapan perspektif GEDSI (Gender Equality Disability and Social Inclusion) dalam penelitian, pengalaman dan tantangan peneliti dalam melakukan penelitian kolaboratif, serta tema mengenai jaringan peneliti dan platform berjejaring bagi peneliti.

Sejumlah 41 peneliti (23 Perempuan dan 18 Laki-laki) yang hadir ini datang dari berbagai universitas seperti Universitas Pattimura Ambon, Universitas Kristen Indonesia Maluku, Institut Agama Kristen Ambon dan Institute Agama Islam Negeri Ambon. Selain dari universitas peneliti dari lembaga pemerintah dan lembaga independen turut berpartisipasi seperti dari Bappeda Litbang  Provinsi Maluku, BRIN, Rumah Generasi, Yayasan Sombar Negeri Maluku, dan Yayasan INAATA Mutiara Maluku.

Isu strategis Provinsi Maluku menjadi bahasan pertama di awal diskusi. Masing-masing peneliti yang hadir menceritakan pengalaman meneliti isu strategis yang dihadapi Maluku dan kontribusi isu tersebut bagi penyusunan kebijakan. Isu terkait disparitas pembangunan antara barat dan timur menjadi pembuka sekaligus pemantik diskusi. Angka kemiskinan yang masih tinggi di Maluku menjadi salah satu isu strategis yang diungkapkan peneliti, dimana Maluku masih berada di posisi keempat Provinsi termiskin di Indonesia. 

Diungkapkan salah satu peneliti dari LBH UNPATTI bahwa dua tahun sebelumnya, belum ada kebijakan yang mengatur secara khusus terkait bagaimana mengakomodir pemenuhan hak-hak hukum kelompok rentan yang ada di Maluku. Isu ini kemudian menjadi subjek penelitian hingga menghasilkan naskah akademik yang diajukan ke DPR. Isu bencana dan perubahan iklim, masyarakat adat dan kebijakan Kawasan hutan, agraria dan konflik identitas serta beberapa isu pembangunan Maluku lainnya juga diungkapkan dalam diskusi ini.


Mengutip salah satu peserta diskusi Bapak Zet A. Sandia dari Yayasan Sombar Negeri Maluku mengungkapkan bahwa dengan melihat representasi peneliti yang hadir pada FGD (Pemda, BRIN, PT, dan NGO/LSM), jaringan yang akan dibentuk lebih punya posisi penting dan strategis. Dalam kalimat lain, kehadiran Jaringan Peneliti Indonesia Timur adalah kebutuhan.

Informasi yang diperoleh dari cerita dan pengalaman peneliti selama FGD yang berlangsung setengah hari ini akan menjadi bahan masukan bagi BaKTI dan KONEKSI dalam mendukung pelaksanaan program pengembangan Jaringan Peneliti Indonesia Timur selanjutnya. Di akhir diskusi, peneliti yang hadir bersepakat untuk tergabung dalam Jaringan Peneliti Maluku dan membentuk platform komunikasi via WhatsApp group guna tetap terhubung satu sama lain.