• itaibnu
  • 04 October 2021

Inspirasi BaKTI Virtual: Berbisnis dengan Hati dan Berdampak Sosial

Yayasan BaKTI kembali melaksanakan Diskusi Inspirasi BaKTI virtual seri ke-3 pada Kamis, 15 September 2021 dengan topik “Berbisnis dengan Hati dan Berdampak Sosial”. Acara diawali dengan pembukaan oleh Appi Patongai sebagai moderator dan sambutan dari Direktur Eksekutif BaKTI, M. Yusran Laitupa. Hadir sebagai narasumber dua orang anak muda keren yakni Meybi Agnesya Lomanledo, CEO dan Founder Timor Moringa, sebuah kewirausahaan sosial berbasis industri pengolahan pangan lokal daun kelor organik dari NTT. Serta Sarah Mirati, CEO Mooi Papua, sebuah kewirausahaan sosial di Sorong Papua Barat yang berfokus untuk menghasilkan produk kosmetika berkualitas tinggi alami, halal dan biodegradable. 

Dalam presentasinya, Meybi menceritakan latar belakang bagaimana awal memulai bisnis sosial ini dan kenapa daun kelor. Daun kelor merupakan potensi alam yang dimiliki NTT namun belum banyak yang mengolahnya menjadi komoditas potensial sementara ada banyak permintaan di pasar nasional maupun internasional. Daun kelor bahkan telah di akui oleh WHO sebagai ‘Pohon Ajaib’ & ‘the new superfood’ untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian tubuh.
Timor Moringa hadir untuk menjadikan daun kelor sebagai komoditas unggulan dari NTT dan mampu memberdayakan 100% petani daun kelor lokal (saat ini masih di Kab. Kupang, Kab. Timor Tengah Utara dan Timor Tengah Selatan) dan membawa hasil bumi mereka ke mancanegara dengan mengolahnya menjadi beberapa produk turunan antara lain coklat kelor, teh celup kelor, dan serbuk daun kelor. Selain itu, Timor Moringa juga memberikan literasi mengenai finansial dan cara mengatur keuangan bagi petani lokal disana. Melalui bisnis sosial ini Meybi berharap dapat meningkatkan perekonomian petani kelor dan mengurangi malnutrisi di NTT.

3

Cerita lain datang dari Sarah. Berawal dari keresahannya menggunakan produk kecantikan berbahan kimia yang berbahaya untuk kulit sensitifnya dan kebutuhan akan produk alami. Juga kepeduliannya untuk menjaga lingkungan khususnya di daerah wisata Raja Ampat dimana sebagian besar produk yang digunakan oleh resort disana berbahan kimia seperti sabun mandi yang berbahaya untuk terumbu karang. Sarah lalu mengembangkan produk kecantikan natural berasal dari bahan lokal dari sumberdaya alam yang melimpah di Papua. Ia berkolaborasi dengan kelompok petani lokal Pala di Fakfak, Vanila di Jayapura, Cokelat di Sentani, dan Buah Merah di Sorong. Selama ini petani disana cukup kesulitan untuk memasarkan hasil produksi mereka dengan harga yang kompetitif yang hanya berupa bahan mentah saja sehingga mendorong Mooi Papua untuk memberikan edukasi kepada petani cara meningkatkan nilai jual bahan baku berkualitas tinggi.  Selain itu, Mooi Papua juga ikut memberdayakan mama-mama Papua untuk mengolah bahan baku menjadi produk perawatan rambut, kulit dan tubuh yang aman digunakan untuk manusia dan lingkungan dan berdampak ekonomis bagi rumah tangganya. Selain sudah memiliki sertifikasi legal, dimasa pandemi ini Mooi Papua terus berinovasi untuk pengembangan produknya.  Kedua narasumber menegaskan pentingnya memulai suatu bisnis dengan hati sehingga memberi dampak positif bagi pelaku bisnis itu sendiri, masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Sebanyak 63 orang hadir dalam acara ini terdiri dari 26 laki-laki (41.3%) dan 37 perempuan (58.7%) berasal dari NGO/CSO, komunitas, pemda, akademisi dan masyarakat umum.

Diskusi Inspirasi BaKTI ini dapat Anda saksikan melalui kanal https://www.youtube.com/c/yayasanbakti