Saling belajar dalam meningkatkan kualitas program
dan bekerja sama menyelaraskan upaya pembangunan

Berita

You are here

 » Sayuran Organik Untuk Generasi Asmat Yang Lebih Sehat
Sayuran Organik Untuk Generasi Asmat Yang Lebih Sehat

KOMPAK-LANDASAN II Update

Pada bulan Januari 2018, Asmat menjadi sorotan karena Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak dan Gizi Buruk.  Sebanyak 72 lebih anak dinyatakan meninggal dunia karena wabah campak dan gizi buruk tersebut.  Gizi buruk yang dialami oleh anak-anak Asmat, salah satu penyebabnya adalah rendahnya konsumsi makanan bergizi, termasuk tidak tersedianya sayuran sebagai sumber vitamin dan mineral bagi ibu dan anak.

 

Distrik Akat, salah satu distrik di Asmat tidak ditemukan gizi buruk.  Ada gizi kurang, tetapi jumlahnya sedikit hanya beberapa anak.  Sebab, anak-anak di Distrik Akat makan Sagu, ikan dan sayur.  Karena itu, mereka tidak mengalami gizi buruk.

Belajar pada pengalaman tersebut, Program KOMPAK-LANDASAN II di Asmat membantu petani-petani sayur di Distrik Akat untuk meningkatkan pengetahuan bercocok tanam melalui pelatihan dan pendampingan bercocok tanam sayuran organik dan membuat pupuk organik, sehingga terhindar dari pupuk kimia yang dapat merusak lingkungan.   Hasil kebun sayur organik ini pertama-tama untuk konsumsi keluarga, guna memenuhi kebutuhan keluarga akan nutrisi.  Selebihnya bisa dipasarkan di kota Agats, ibu kota Asmat.

Sayuran organik adalah sayuran yang dibudidayakan secara alami tanpa bantuan bahan kimia, seperti pupuk atau pestisida. Karena itu sayuran organik bebas dari berbagai zat kimia yang dapat meninggalkan residu pestisida atau pupuk kimia yang dapat membahayakan tubuh manusia (seperti memicu kanker).  Keuntungan lainnya, sayuran organik lebih enak, segar dan tidak cepat membusuk dan umumnya memiliki rasa yang lebih manis, renyah dan segar. Hal ini disebabkan karena sedikitnya kandungan air dalam sayuran.

Pelatihan ini diikuti lima (5) kelompok tani, setiap kampung diwakili oleh satu kelompok, yaitu kelompok tani Kampung Waw Cesau, Ayam, Bayiw Pinam, Cumnew, Jowes dan satu kelompok tani Guru-guru SD dan SMP Distrik Akat.  Total peserta sebanyak 33 orang.


    
Untuk memastikan kelompok tani dapat bercocok tanam secara baik dan benar, didatangkan pelatih dari Jayapura Bruder Elias Logo OFM, seorang ahli pertanian organik Fransiskan Papua, yang dibantu oleh Pastor Vesto Maing, Pr dari Paroki St. Martinus de Pores Ayam, saudara Petrus Supardi sebagai Koordinator Kabupaten Asmat dan saudari Arita Adelheid O. Meak yang bertugas sebagai Koordinator Distrik Akat Program LANDASAN II di Asmat.
 
Pelatihan dan pendampingan teknik bercocok tanam sayuran organik ini berlangsung selama 35 hari sejak Tanggal 20 Agustus 2018.  Pelatihan secara resmi dibuka oleh Pastor Vesto Maing, Pr Pastor Paroki St. Martinus de Pores Ayam  di Aula Gereja St. Martinus de Porez Distrik Akat Kabupaten Asmat.    Sebelum memulai praktik,  semua peserta mendapatkan pengantar Teori Pertanian Organik bagaimana syarat dan keuntungannya, yang dibawakan oleh Bruder Elias Logo OFM.  

Sayuran yang ditanam antara lain Sawi, Kangkung, Bayam, Kacang panjang, Cabai, Tomat, Terong, dan Labu Kuning.  Setelah kebun siap dan bibit sayuran ditanam, teknik pemeliharanan sayuran hingga panennya nanti para petani di Akat terus didampingi oleh Bruder Elias Logo OFM dan tim LANDASAN II yang bertugas di Asmat.  

Program LANDASAN II adalah adalah bagian dari Program KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan untuk Kesejahteraan) yang merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dan Australia. Implementasi LANDASAN II dimulai pada awal tahun 2017 dan difasilitasi oleh Yayasan BaKTI yang merupakan mitra pelaksana KOMPAK dan pemerintah daerah di Papua dan Papua Barat dengan arahan dari Bappenas.

*Foto oleh : Arita Adelheid, Don K. Marut, dan Petrus Supardi,

 

 

 

Tags Berita: 
Indonesian