Mengkaji Rantai Nilai dan Tata Kelola Komoditas Sulawesi Selatan

Pertemuan kolaborasi multipihak ke-5 (lima), kerjasama Yayasan BaKTI  dan BAPPELITBANGDA Sulawesi Selatan dan Knowledge Sector Initiatif  (KSI) dilaksanakan pada 29 Februari 2020, di Rumah Makan Torani, Sulawesi Selatan, dihadiri 23 orang. Peserta  terdiri dari  akademisi, mitra pembangunan, Kepala Bidang Bappelitbangda, fungsional perencana, fungsional peneliti Bappelitbangda Sulawesi Selatan, BaKTI dan mitra pembangunan.

Pada pertemuan ke-5 (lima) yang membahas agenda penelitian ini menyepakati kajian rantai nilai dan tata kelola komoditas sutra dan talas satoimo. Keduanya  merupakan program prioritas pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. Kombinasi isunya berangkat dari titik yang berbeda, sutra bicara kondisi faktual, existing, talas bicara prospek. Dua komoditas yang turut direkomendasi, yaitu padi dan jagung dinilai tidak lagi efektif dikaji, komoditas ini berjalan tanpa intervensi kebijakan, rantai nilainya pendek dan tidak ada hal baru yang menarik,  selain sudah banyak hasil kajian yang dilakukan sejak tahun 2003.

Revitalisasi industri sutra berpotensi menjadi industri alternatif, untuk menunjang perekonomian Sulawesi Selatan, menyuguhkan pengetahuan rantai nilai yang komprehensif, melibatkan beragam pemangku kepentingan dari hulu sampai hilir, secara spesifik peran kelompok perempuan dominan dalam proses industrialisasinya, yang berkorelasi terhadap pendapatan perempuan. ‘’Mengembalikan kejayaan sutra’’, tantangannya adalah mengembalikan animo masyarakat yang pernah gagal budidaya kokon.

Sementara talas satoimo, komoditas baru yang diperluas pengembangannya, berpotensi memperkuat struktur pangan lokal, dengan jaminan pasar ekspor terbuka lebar di Negeri Sakura. Menariknya, komoditas ini boleh jadi antitesa pola pengembangan komoditas berbasis potensi yang seringkali gagal merebut pasar. Kajian sutra dan talas satoimo, dinantikan, dibutuhkan guna membantu pemerintah provinsi merumuskan kerangka kebijakan yang tepat


Dengan selesainya pertemuan ke-lima, dengan kesepakatan subtansi kajian dan komoditasnya, maka agenda selanjutnya adalah pelaksanaan kajian yang akan dimulai pada awal April 2020.