• adminbakti
  • 05 October 2023

Pelecehan dan Eksploitasi Seksual Anak secara online (OCSEA) dan Mempromosikan Lingkungan yang Aman melalui Pendekatan Kesadaran dan Respons (SETARA)

Kerja sama dengan Yayasan BaKTI dan Unicef Indonesia di Sulawesi Selatan mencakup 2 program yaitu Pelecehan dan Eksploitasi Seksual Anak secara online (OCSEA/Online Child Sexual Exploitation and Abuse) dan Mempromosikan Lingkungan yang Aman melalui Pendekatan Kesadaran dan Respons (SETARA/Safe Environment through Awareness and Response Approach) serta Air, Sanitasi, dan Kebersihan (WASH). Berikut ini adalah highlights dari 2 program tersebut dalam periode Juli - September 2023


Sosialisasi Mekanisme Deteksi Dini dan Alur Layanan Perlindungan Anak di Tingkat Desa dan Kelurahan (Wilayah Intervensi Program OCSEA) di Makassar dan Maros

Yayasan BaKTI didukung oleh Unicef, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kota Makassar, Kabupaten Maros, Bone dan Wajo melakukan Sosialisasi Penguatan Mekanisme Layanan Perlindungan Anak Terpadu dan Mekanisme Rujukan bagi Penyintas Kekerasan Berbasis Gender, Perkawinan Anak serta Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring (Mekanisme Deteksi Dini, Penanganan Awal, Pemantauan, dan Pelaporan). Tujuan yang pertama itu untuk mensosialisasikan mekanisme program yang telah berjalan di kabupaten atau kota, khususnya desa atau kelurahan. Kedua, tentang pencegahan pernikahan anak dibawah umur, tetapi ketika tidak berhasil, maka tetap ada mekanisme yang berjalan. Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dan Shelter Warga atau Rumah Aman. Fungsinya sebagai edukasi dan pemenuhan hak perlindungan anak, deteksi dini, dan pendampingan atau penanganan kasus. 
Kegiatan ini dilakukan di 10 desa/kelurahan yang ada di 2 kabupaten/kota (Makassar dan Maros) yang dilaksanakan di Makassar - 6 Juli 2023 dan Maros - 7 Juli 2023. Jumlah peserta yang hadir pada kegiatan sosialisasi di Makassar, 29 orang (Laki-laki: 12 , Perempuan: 29) dan Maros, 21 orang (Laki-laki: 13 , Perempuan: 8).



Kegiatan edukasi/parenting session kepada orangtua/pengasuh tentang digital parenting dan pencegahan OCSEA termasuk perkawinan anak di 4 wilayah target (Makassar, Maros, Bone dan Wajo)

Sebagai upaya pencegahan eksploitasi dan pelecehan seksual anak di ranah daring (Online Child Sexual Exploitation and Abuse-OCSEA), dan penguatan Lingkungan yang Aman Melalui Pendekatan Kesadaran dan Respon, untuk isu perkawinan usia anak dan Kekerasan Berbasis Gender (Safe Environment through Awareness and Response Approach (SETARA), maka Yayasan BaKTI bekerjasama dengan pemerintah daerah didukung oleh UNICEF Indonesia  telah menyelenggarakan Pelatihan Fasilitator Masyarakat /Pengurus Ormas. Para peserta perwakilan Fasilitator Masyarakat baik dari Shelter Warga maupun PATBM, telah melakukan edukasi kembali tentang pencegahan OCSEA dan perkawinan usia anak di tingkat masyarakat/komunitas. 

Edukasi pencegahan OCSEA dan perkawinan telah terlaksana mulai dari tanggal 22 Juni 2023 untuk wilayah Makassar dan Maros, sementara di Bone dan Wajo mulai tanggal 10 Juli-10 Agustus 2023. Orangtua/pengasuh yang telah teredukasi di 20 desa/kelurahan di 4 wilayah sebanyak 7.225 orang (laki-laki:2.025, perempuan: 5.200), dengan rincian:  Makassar (laki-laki: 715, perempuan: 1801) - Total: 2516; Maros (laki-laki: 407, perempuan: 975) - Total: 1382; Bone (laki-laki: 488, perempuan: 1448) - Total: 1936. Wajo (laki-laki: 415, perempuan: 976) - Total: 1391.

Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring - OCSEA) bagi Guru dan Forum Anak

Tingginya angka kekerasan dan eksploitasi seksual di Ranah Daring adalah salah satu hal yang melatarbelakangi kegiatan pelatihan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan dan Eksploitasi Seksual di Ranah Daring. Dalam pelatihan yang akan selenggarakan ini, diharapkan sekolah sebagai satuan pendidikan dan salah satu garda terdepan dalam hal pemenuhan hak pendidikan untuk anak-anak menjadi salah satu pihak yang mampu mencegah sekaligus melakukan penanganan awal ketika terjadi kasus kekerasan dan eksploitasi seksual di Ranah Daring. 
Ada dua peran sekolah yang diharapkan akan terpenuhi setelah mengikuti pelatihan ini. Peran pencegahan dan penanganan awal. Begitu pula peran teman sebaya di lingkungan sekolah, peran pencegahan dimulai dari pembentukan lingkungan internet yang aman dan sehat, deteksi dini dan juga kegiatan-kegiatan kampanye, penguatan dan juga kapasitasi dari seluruh pihak di sekolah. Penanganan diawali dengan deteksi dini dan penyusunan prosedur dan mekanisme penanganan kasus yang ada di sekolah, dan juga prosedur rujukan kepada pihak-pihak yang memang berwenang. 
Sebagai upaya perlindungan anak di ranah daring, UNICEF melalui Yayasan BaKTI bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Daerah telah melaksanakan kegiatan pelatihan Pencegahan dan Penanganan Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring (OCSEA – Online Child Sexual Exploitation and Abuse). Pelatihan ini telah diselenggarakan pada tanggal 21-22 Juli 2023, diikuti oleh 42 orang peserta (12 laki-laki dan 30 perempuan) dari Makassar dan Maros. Peserta merupakan perwakilan dari unsur guru dan forum anak dari 6 sekolah umum dan sekolah inklusi di Kota Makassar (3 Sekolah SMA, dan 3 Sekolah SMP), dan 4 Sekolah di Kabupaten Maros (2 Sekolah SMA, dan 2 Sekolah SMP). 

Output pelatihan antara lain: 

  • Sebanyak 42 orang peserta (12 laki-laki dan 30 perempuan) dari Makassar dan Maros telah meningkat pengetahuan dan pemahamannnya mengenai: Pencegahan dan penanganan eksploitasi dan kekerasan seksual anak di ranah daring. 
  • Peserta Forum Anak sebagai teman sebaya telah meningkat pengetahuan dan pemahamannya mengenai pencegahan dan penanganan eksploitasi dan kekerasan seksual anak di ranah daring.
  • Adanya rencana aksi dari guru dan forum anak mengenai kegiatan edukasi yang disampaikan ke siswa dan teman sebaya mengenai pencegahan dan penanganan eksploitasi dan kekerasan seksual anak di ranah daring. 

Edukasi Pencegahan OCSEA keamanan online, kekerasan berbasis gender, dan pencegahan perkawinan anak oleh guru kepada siswa/siswi di lingkungan sekolah 

Kegiatan edukasi pencegahan OCSEA merupakan tindak lanjut dari pelatihan yang telah diselenggarakan pada tanggal 21-22 Juli 2023, peserta sejumlah 42 orang peserta (12 laki-laki dan 30 perempuan) dari Makassar dan Maros, perwakilan dari unsur guru dan forum anak dari 6 sekolah umum dan sekolah Inklusi di Kota Makassar (3 Sekolah SMA, dan 3 Sekolah SMP), dan 4 Sekolah di Kabupaten Maros (2 Sekolah SMA, dan 2 Sekolah SMP), telah melakukan edukasi di masing-masing sekolahnya. Sementara Forum Anak dari tingkat provinsi, kota Makassar dan Maros melakukan edukasi ke teman sebaya yang ada disekolah lain diluar sekolah mereka. Kemudian Forum Anak Sulsel melakukan edukasi melalui pertemuan via online/zoom dalam bentuk webinar. Kegiatan edukasi pencegahan OCSEA dilakukan mulai tanggal 1-31 Agustus 2023. Target capaian edukasi yang dilakukan di tingkat provinsi, Makassar dan Maros, telah mencapai 18.500 siswa/pelajar. 



Pelatihan Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (KBG), Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring (OCSEA) bagi Forum Anak/Remaja

UNICEF melalui Yayasan BaKTI bekerjasama dnegan pemerintah daerah melakukan upaya pencegahan eksploitasi dan kekerasan seksual anak di ranah daring (OCSEA), dan penguatan Lingkungan yang Aman Melalui Pendekatan Kesadaran dan Respon, untuk isu perkawinan usia anak dan Kekerasan Berbasis Gender (Safe Environment through Awareness and Response Approach (SETARA), telah  melaksanakan  Pelatihan  Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender (KBG), Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring (OCSEA) bagi Forum Anak/Remaja, dengan menggunakan modul Pencegahan OCSEA bagi siswa/remaja yang telah disusun oleh Tim Yayasan SETARA. 
Pelatihan ini diselenggarakan pada tanggal 28 Agustus 2023 di Kabupaten Bone dengan jumlah peserta sejumlah 24 orang (laki-laki 5 orang, perempuan 19 orang), perwakilan dari Forum Anak, Forum Genre, Duta Pelajar, Anak Dara Kalolo, dan Fasilitator Anak desa dari 6 lokasi program pecegahan OCSEA (Mallari, Cumpiga, Welado, Ajjalireng, Mallimongeng dan Abummpungeng). Sementara di Kabupaten Wajo diselenggarakan pada tanggal 29 Agustus 2023, yang diikuti oleh 23 orang peserta (laki-laki: 9 orang, perempuan: 14 orang), perwakilan dari Forum Anak, Forum Genre dan Fasilitator Anak dari 4 desa/kelurahan lokus program pencegahan OCSEA (Kelurahan Tempe, Desa Limporilau, Lompoloang dan Pakkanna). 
Peserta yang sudah mendapatkan pelatihan akan melakukan edukasi kembali kepada teman sebaya, baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka. Edukasi dan kampanye dilakukan melalui media sosial dengan target masing-masing peserta mengedukasi kembali teman sebaya minimal 100 orang di tingkat kabupaten maupun tingkat desa.


Pelatihan Pencegahan OCSEA bagi Penyedia Layanan di Tingkat Provinsi dan Kota Makassar

Kasus Online Children Sexual Exploitation and Abuse (OCSEA) atau Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring semakin bertambah, karena banyak anak-anak yang tidak berani melapor. Berdasar studi baseline tentang OCSEA (2023) ditemukan 63% anak mengatakan bahwa mereka tidak akan melaporkan masalah ini ke polisi karena terlalu takut menjadi tersangka, berurusan dengan polisi dan masuk penjara. Mereka takut mempermalukan nama baik orang tua mereka dan percaya bahwa mereka tidak memiliki bukti yang cukup untuk pergi ke polisi. Sebagian anak juga tidak tahu bahwa ini adalah kejahatan. Terlebih jika anak disabilitas, dimana ketergantungan mereka pada dunia daring tinggi dan lebih rentan menemui masalah karena orang tua mereka tidak memberikan aturan tertentu (46%) lebih tinggi daripada anak anak secara umum (30%). Mayoritas anak disabilitas mengalami cyber-bullying terutama terkait dengan keterbatasan mereka.
Sebagai upaya pencegahan eksploitasi dan kekerasan seksual anak di ranah daring (OCSEA), dan penguatan Lingkungan yang Aman Melalui Pendekatan Kesadaran dan Respon, untuk isu perkawinan usia anak dan Kekerasan Berbasis Gender (Safe Environment through Awareness and Response Approach - SETARA), UNICEF Indonesia melalui Yayasan BaKTI telah melakukan upaya pencegahan kekerasan dan eksploitasi seksual anak melalui pelatihan untuk menguatkan kapasitas penyedia layanan. Selain pencegahan dan penanganan kasus OCSEA, UNICEF Indonesia juga mendukung penguatan kapasitas bagi penyedia layanan yang ada di tingkat provinsi dan kabupaten. Penyedia layanan diharapkan dapat memberikan layanan yang cepat, akurat, komprehensif dan terintegrasi (CEKATAN) dalam penanganan kasus-kasus anak. Misalnya Dukungan Kesehatan Mental dan Psikososial anak (DKMP) melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) termasuk dukungan pemenuhan akta kelahiran bagi anak usia 0-5 tahun melalui Dinas DUKCAPIL dan jejaringnya.
Pelatihan ini bertujuan untuk: Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang konsep Kekerasan Berbasis Gender (KBG), Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) dan OCSEA. Penguatan kapasitas penyedia layanan untuk melindungi anak dari risiko OCSEA melalui pencegahan, deteksi dini dan penanganan kasus OCSEA. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemberi layanan dalam memahami etika bekerja dengan anak, alur dan mekanisme manajemen kasus OCSEA. Peserta mampu mengidentifikasi lembaga-lembaga rujukan baik di tingkat Kab/Kota – Provinsi – Nasional. Penguatan mekanisme layanan, rujukan terpadu ramah anak dan respon terhadap kasus KBG, KBGO serta pemenuhan hak anak salah satunya pencatatan kelahiran.
Yayasan BaKTI bekerjasama dengan pemerintah daerah didukung oleh UNICEF Indonesia telah menyelenggarakan Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Eksploitasi dan Kekerasan Seksual Anak di Ranah Daring bagi Penyedia Layanan di Sulawesi Selatan pada tanggal 19-21 September 2023 bagi penyedia layanan yang ada di tingkat provinsi Sulsel dan Kota Makassar. Kegiatan ini diikuti oleh 28 orang peserta (Laki-laki 8 orang, Perempuan 20 orang). Peserta berasal dari perwakilan penyedia layanan dan Dinas terkait seperti Dinas P3A, Dinas Sosial, dan Dinas Pendidikan, Kepolisian, Kejaksaan, UPT PPA, dan Puspaga. Peserta pelatihan ini selanjutnya akan mensosialisasikan materi ini kepada tim yang ada di dinas/instansinya masing-masing. 

Air, Sanitasi, dan Kebersihan (WASH)
 

Pendampingan Penyelenggaraan Sanitasi Aman: Pengelolaan Air Limbah Domestik di Kab. Wajo. Sengkang, 19-23 Juli 2023
Indikator persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria akses sanitasi layak di Sulawesi Selatan pada tahun 2022 mencapai 92,24 %   dan 12,92% akses aman. Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap layanan sanitasi layak (limbah domestik) terus mengalami peningkatan. Untuk mengejar pencapaian target nasional 15% akses aman pada tahun 2024 maka pemerintah kabupaten/kota harus menyelesaikan sejumlah tantangan dan hambatan terhadap peningkatan penyelenggaraan sanitasi aman. 

Tantangan tersebut antara lain: 

  • Penguatan kapasitas pemerintah daerah dan penyelenggara sanitasi dari sisi perencanaan, teknis & operasional dan pendanaan, termasuk SDM pengelola sanitasi;
  • Penyediaan akses sanitasi aman yang berfokus pada sistem terpusat dan setempat (layanan lumpur tinja dan perluasan sambungan rumah); dan 
  • Penyediaan infrastruktur sanitasi untuk mendukung peningkatan kesehatan masyarakat dan lingkungan.    
    Bagi pemerintah kabupaten Wajo untuk mengejar pencapaian target nasional/RPJMN 2020-2024 dan SDG’s Goal 6 untuk akses sanitasi aman, maka lebih awal menyiapkan regulasi yang mendukung, yakni:
    •    Peraturan Daerah Kabupaten Wajo No. 3 tahun 2012 tentang Retribusi Penyediaan dan/atau Penyedotan Kakus; 
    •    Peraturan Daerah Kabupaten Wajo No. 14 tahun 2021 tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik; 
    •    Peraturan Bupati No. 98 tentang 2021 tentang SOTK Pengelola Air Limbah Domestik Dinas PUPR. 
    •    Penyusunan Naskah Akademis (NA), Analisa Beban Kerja (ABK), dan draft/konsep Peraturan Bupati yang diperlukan.

Pada kegiatan ini:

  1. Segenap partisipan mendapatkan refresh pengetahuan dan pengalaman pembelajaran kontekstual di masyarakat tentang kondisi akses (sarana prasarana) sanitasi air limbah domestik rumah tangga. Mereka mengetahui mata rantai penyelenggaraan sanitasi aman yang dimulai dari rumah tangga dengan penggunaan kloset leher angsa dan tangki septik kedap dan aman (tidak bocor atau merembes mencemari air dan tanah), lalu air dan lumpur tinja yang  ada dalam tangki septik disedot dan diangkut oleh truk tinja  secara aman ke Instalasi Pengelolahan Lumpur Tinja (IPLT). Di IPLT lumpur tinja dipisahkan cairan dan padatan melalui sejumlah kolam filterasi bakteri hingga pada akhirnya air limbah dan padatannya aman dibuang ke lingkungan. 
  2. Mahasiswa dan sanitarian berhasil menjangkau dan mengumpulkan 131 data rumah tangga yang nantinya akan difollow up oleh Dinas Bimacipta untuk sosialisasi program layanan penyedotan lumpur tinja secara terjadwal atau tidak terjadwal. Data dan infomasi tersebut dikirimkan (submitted) langsung ke basis data dalam SIMPALD untuk selanjutnya data-data tentang akses sanitasi itu diexport ke aplikasi spread sheet (excel) oleh narsum ICT (Information and Communication of Technology) dan ditampilkan dalam paparan, dijelaskan validitas data dan maknanya.
  3. Mahasiswa dan sanitarian mendapatkan pengalaman dan wawasan baru dari lapangan tentang berbagai kondisi kontekstual akses sanitasi rumah tangga, masalah-masalah terkait sanitasi air limbah domestik. Demikian juga tantangan pembangunan sanitasi aman yang dijelaskan pada sesi refleksi siang pasca kunjungan survey di lapangan.
  4. UPT-PALD (Dinas Bimacipta) dan sanitarian (Puskesmas-Dinkes) mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan tersebut khususnya data yang terkumpul yang sudah masuk dalam sistem data base SIMPALD menjadi rujukan kegiatan progam mereka.  Dengan data itu mereka sepakat untuk menyiapkan kegiatan sosialisasi layanan penyedotan lumpur tinja dari sebagian besar tangki septik yang disurvey belum pernah disedot lumpur tinjanya sejak dibangun. 
  5. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar lapangan tentang air limbah domestik yang sejalan dengan Mata Kuliah Generik Kompetensi yang mendukung pencapaian target ketuntasan belajarnya dalam mata kuliah yang dimaksud. 

    Kegiatan di luar kelas: Operator IPLT Wajo praktik penyedotan limbah domestik di rumah tangga

Namun, yang mendesak untuk segera ditangani oleh Pokja PKP khususnya Dinas PUPR dan Bappelitbanda selaku stakeholder kunci yaitu penguatan kapasitas SDM baik dari unsur regulator (pembuat kebijakan air limbah domestik) maupun operator (pelaksana kegiatan air limbah domestik) serta penyiapan sistem data base yang mendukung program kemudahan pelaksanaan program Layanan Lumur Tinja Terjadwal (L2T2) dan program L2T3 atau yang tidak terjadwal. Dan dari sektor subsistem sarana pihak PUPR perlu melakukan optimalisasi keberfungsian Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Wajo.  
Dalam konteks memfasilitasi penguatan kapasitas penyelenggara PALD untuk penyelenggaraan sanitasi aman di Wajo maka Yayasan BaKTI bekerja sama UNICEF bekerja sama melaksanakan pendampingan teknis (Technical Assistance) bagi regulator dan operator penyelenggara sanitasi air limbah domestik.
Kegiatan pendampingan awal berlangsung selama tiga hari, 19-23 Juli 2023 di Sengkang. Hadir mengikuti kegiatan sebanyak 25 orang peserta. Mereka terdiri dari 2 orang dari Infraswil Bappelitbangda, 8 orang dari Dinas PUPR, dan 15 orang dari unsur operator di UPT PALD Wajo. Peserta diasistensi oleh 3 konsultan PALD dari BPPW Sulsel - Niswaryadi Sadiq, konsultan PALD dari provinsi - Muh. Ariif dan konsultan PALD dari level nasional/Bandung - Djoko Sugiharto.  Model pendampingan dilaksanakan dalam kelas dan luar kelas melalui asistensi teknis praktik pengoperasian subsistem penyedotan, pengangkungan dan pengolahan di IPLT. 
 

Adapun output dari kegiatan ini adalah:

  • Stakeholder pengelola air limbah domestik dari unsur regulator dan operator mendapatkan persepsi yang sama tentang regulasi terbaru yang mengatur masalah sanitasi dari tingkat pusat ke kabupaten, kebijakan pemerintah, penyegaran (refreshment) tentang tupoksi unsur regulator dan operator UPTD PALD. 
  • UPT PALD Wajo mendapatkan refresh pengetahuan dan pengalaman baru tentang pengoperasian semua subsistem pengeloloaan ALD berdasar SOP manajemen dan teknis. 
  • Adanya hasil evaluasi dan rencana bersama tentang aspek-aspek pengelolaan ALD yang membutuhkan dukungan peningkatan dan pengembangan di masa mendatang yakni: 
    o    Penyediaan data-data terbaru tentang kondisi sejumlah komponen bangunan IPLT yang perlu direhabilitasi
    o    Perbaikan SOP layanan dan SOP teknis yang perlu direvisi berdasarkan kondisi di Wajo.
    o    Penyediaan sistem data base pelanggan dan calon pelanggan layanan air limbah domestik dari unsur rumah tanngga, bisnis, sosial dan kantor pemerintah.  
  • Rekomendasi mendesak bagi Dinas PUPR dan Bappelitbangda yakni pengalokasian dana dari APBD, DAK untuk pembiayaan optimalisasi penyelenggaraan sanitasi aman khususnya perbaikan komponen IPLT, penyiapan SDM yang terampil sesuai spesifikasinya, dan penyiapan sistem informasi manajemen PALD Wajo.

 

Pertemuan Advokasi dan Sosialisasi Penyelenggaraan Sanitasi Aman di Perumahan dan Kawasan Permukiman di Sulawesi Selatan, Pangkajene, Sidrap

Guna mendukung akselerasi pencapaian target nasional pembangunan sanitasi air limbah domestik 90% layak dan didalamnya 15% akses aman tahun 2024, maka pemerintah kabupaten dan kota di Provinsi Sulawesi Selatan memandang penting mengembangkan pola kolaborasi partisipatoris bersama semua stakeholder terkait dalam pembangunanan akses sanitasi layak dan peningkatan akes aman. Salah satu mitra strategis yang memiliki peran kunci yakni sektor swasta mencakup kelompok pengembang dan sektor perbankan.  
Kedua stakeholder penting tersebut sangat berpotensi memberikan kontribusi besar terhadap akselerasi pembangunan dan penyelenggaraan sanitasi layak aman (safely managed sanitation) yang mana akses sanitasi layak dan aman untuk semua penduduk adalah layanan dasar. Hal tersebut juga menjadi kewajiban bagi pemerintah kabupaten dan kota serta bagian dari tanggung jawab bagi stakeholder pembangunan perumahan dan permukiman. 
Bagian penting dari perumahan dan kawasan permukiman yakni instalasi pengelolaan air limbah domestik dan kakus dengan tangki septik kedap yang tidak merembes mencemari air minum dan tanah di lingkungan sekitar. Namun, kedua subsistem penyelenggaraan sanitasi aman tersebut belum dapat diakses oleh sebagian besar warga yang tinggal di perumahan-perumahan dan kawasan permukiman. 
Tantangan penyediaan sarana prasarana akses layak dan sanitasi aman tersebut boleh jadi masih disebabkan karena belum adanya kesepahaman di antara stakeholder pembangunan sanitasi ataupun belum tersosialisasikannya nilai kemanfaatan, harga, regulasi dan kebijakan pendukung yang sinkron di level pusat dan daerah. Demikian juga bagi pihak pengembang perumahan dan permukiman boleh jadi masih memandang sarana tersebut barang mahal sehingga sudah pasti memicu kenaikan harga rumah.
Mendorong terwujudnya kesepahaman dan peluang penguatan kolaborasi multi pihak untuk kemajuan pembangunan kualitas hidup dalam lingkungan tempat tingggal yang sehat, maka Unicef dan Yayasan BaKTI bekerja sama dengan Pokja PPASP Sulsel dan Pokja PKP Sidrap memfasilitasi pertemuan advokasi sinergitas penyelenggaraan sanitasi aman di lingkungan perumahan dan permukiman di Sulawesi Selatan.

Kegiatan awal dilaksanakan dalam bentuk pertemuan advokasi dan sosialisasi penyelenggaraan sanitasi aman di perumahan dan kawasan permukiman bagi pengembang perumahan di Sulawesi Selatan. Kegiatan dilaksanakan pada15-16 Agustus 2023 di Pangkajene, Kabupaten Sidrap.

Hadir dalam kegiatan ini sebanyak 32 orang peserta (Laki-laki: 27 dan Perempuan: 5) yang berasal dari perwakilan kelompok pengembang yang tergabung dalam Forum Pengembang Sidrap, perwakilan pengembang dari Pinrang, unsur pemerintah dari kepala Dinas Biciptapera beserta kepala bidang yang terkait; Kepala Bappelitbangda beserta kepala bidang yang terkait, Kepala Dinas Lingkungan Hidup beserta kepala bidang terkait, kepala UPT PALD, dan perwakilan dari Dinas Bimacipta Kab. Pinrang, unsur kepala Bidang Cipta Karya dan Kepala UPT PALD Pinrang.

Kegiatan dikelola di dalam kelas dan luar kelas. Di dalam kelas segenap pengembang yang hadir mendapatkan penguatan pemahaman tentang sanitasi air limbah domestik, bahaya dampak sanitasi limbah domestik yang buruk, sarana prasarana sanitasi rumah tangga, komparasi harga atau biaya sarana sanitasi tangki septik fabrikasi dan yang konvensional, regulasi yang mengatur, dan mata rantai penyelenggaraan sanitasi aman.  

Di luar kelas yakni kunjungan ke lokasi perumahan untuk menunjukkan model sarana dan instalasi sanitasi rumah tangga tangki septik kedap yang aman di perumahan Maiko Batara Villa Datae, dibangun oleh pengembang PT. Mitra General Konstruksi (Maiko). Kegiatan lapangan dilanjutkan di di IPLT Patomo Sidrap, sebagai subsistem akhir dari pengelolaan limbah domestik. Tujuan kegiatan lapangan yakni agar pengembang dapat mengetahui secara ril mata rantai penyelenggaraan sanitasi yang aman yang dimulai dari perumahan yang dibangun.

Hasil dari kegiatan ini adalah:

  1. Pengembang perumahan yang tergabung dalam Forum Pengembang Sidrap dan Pinrang mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru tentang pembangunan sanitasi aman, yang dikelola melalui mata rantai penyelenggaraan sanitasi aman, dimulai dari rumah tangga sistem setempat (kakus dengan kloset leher angsa dan tangki septik kedap aman,) tangki septik disedot secara reguler 3 kali setahun, lumpur tinja diangkut secara aman, dan diolah di IPLT secara aman sesuai SOP.
  2. Adanya kesepahaman dan kesepakatan tiga pihak: pemerintah/Dinas PUPR dan Dinas Lingkungan Hidup, Pengembang, dan perbankan tentang  syarat penerbitan dan persetujuan  perizinan SIMBG (Surat Izin Membangun Gedung) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Pengembang wajib menggunakan tangki septik Kedap Aman (bio tank/fabrikasi ataupun konvensional)
  3. Pengembang menyetujui dan sepakat menggunakan tangka septik Kedap Aman.  Mereka sudah dapat memilih menggunakan tangki septik jenis fabrikasi maupun konvensional karena harga bersaing yakni 3 juta rupiah dan 3.5 juta rupiah. Sisa membandingkan keunggulan produk dan efisiensi waktu pemasangan. 
  4. Rekomendasi dari Dinas PUPR yang ditujukan kepada Kementerian PUPR Jakarta agar di dalam Sistem Infomasi Manajemen Bangunan Gedung (SIMBG) oleh Kementerian PUPR ditambahkan menu yang mewajibkan Tangki Septik Kedap Aman fabrikasi ataupun konvensional. Tujuannya, sebagai penegasan aturan dan syarat penerbitan Sertifikat Laik Fungsi (SLF) dan izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). 

    Kegiatan di luar kelas: Pengembang perumahan didampingi Kadis PUPR dan Kadis Lingkungan Hidup sedang mengamati model dan teknik instalasi tangki septik fabrikasi di lokasi perumahan Maiko Batara Villa Datae, Sidrap. Kegiatan diskusi kelompok dalam kelas didampingi oleh Kadis PUPR dan Kadis Lingkungan Hidup


Lokakarya Inspeksi Akses Sanitasi Rumah Tangga Berbasis Sistem Informasi Manajemen Pengelolaan Air Limbah Domestik (SIMPALD), Pinrang, 23-24 September 2023

Pembangunan sanitasi air limbah domestik di kabupaten Pinrang saat ini sudah berada di tingkat penyelenggaraan sanitasi aman (safely managed sanitation). Capaian pembangunan tersebut merupakan hasil dan wujud dari komitmen pimpinan daerah melalui Pokja AMPL/PKP (BAPPELITBANGDA) Pinrang dengan mengembangkan kolaborasi multipihak yang bergerak di sektor penyelenggaraan sanitasi (air limbah domestik) aman. 
Seiring dengan upaya perbaikan kualitas layanan sanitasi air limbah domestik yang digerakkan melalui program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (L2T2) dan Tidak Terjadwal (L2T3) di bawah Dinas Bimacipta bekerjasama dengan Dinas Kesehatan, maka jumlah rumah tangga yang terakses layanan air limbah domestik semakin meningkat. Saat ini sebanyak 1.009 dan1.051 rumah tangga yang telah terjangkau layanan program L2T2 dan L2T3. Namun, jumlah tersebut masih jauh dari target menjangkau 21.342.000 rumah tangga yang ada di klaster kota Pinrang. 
Salah satu langkah maju untuk mengukur kepastian keterjangkauan layanan untuk semua rumah tangga tersebut di atas, maka Pokja AMPL/PKP melalui Dinas Bimacipta mengembangkan sistem database layanan Air Limbah Domestik (ALD) yang disebut Sistem Informasi Manajemen Layanan Air Limbah Domestik (SIMPALD). Sistem ini dibuat untuk pengelolalaan database yang akurat secara daring (website dan smartphone) guna memudahkan perencanaan dan monitoring evaluasi pembangunan sanitasi. 
Guna memperluas cakupan layanan air limbah domestik, yang mendukung sanitasi aman,  khususnya tahap awal menjangkau semua rumah tangga di wilayah perkotaan di Pinrang maka Yayasan BaKTI didukung Unicef bekerja sama dengan Pokja PKP Dinas Bimacipta, Dinas Kesehatan, dan Universitas Hasanuddin-Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) departemen Kesehatan Lingkungan, melaksanakan kegiatan yang betajuk lokakarya inspeksi akses sanitasi rumah tangga berbasis Sistem Informasi Manajemen Layanan Air Limbah Domestik (SIMPALD). 
Kegiatan berlangsung di The M Hotel Pinrang.  Jumlah peserta yang hadir sebanyak 40 orang (31 perempuan; 10 laki-laki). Mereka terdiri dari 25 orang mahasiswa, 13 orang sanitarian (DinKes) serta 2 orang pejabat dan staf dari Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang (Bimacipta) Pinrang. Peserta mengikuti keseluruhan proses kegiatan secara aktif di dalam kelas dan di lapangan.
Kegitan dalam kelas diisi pemaparan materi dan praktik simulasi penjangkauan data akses sanitasi rumah tangga menggunakan aplikasi SIMPALD dalam smart phone.  Peserta diasistensi oleh tiga narasumber yakni dr. Eko Nugroho - konsultan sanitasi kesehatan lingkungan, Erfan Hasmin - konsultan aplikasi SIMPALD, dan Muh. Arif - konsultan PALD. Dalam sesi simulasi mahasiswa dan sanitarian berpasangan dalam kelompok menanyakan quesioner yang berisi 41 item pertanyaan yang sudah ditanamkan dalam aplikasi. Quesioner tersebut digunakan dalam kegiatan survei/inspeksi sarana akses sanitasi.
Kegiatan lapangan untuk survei akses sanitasi rumah tangga. Dikelola oleh fasilitator dibantu oleh narasumber dr. Eko dan M. Arif, yang berlokasi di 3 kecamatan yakni Kec. Tiroang Kel. Marawi, Kec. Watang Sawitto Kel. Sipatokkong, dan Kec. Paleteang, Kel. Temmassarangnge. Survei berlangsung dari jam 09.00-12.30 siang. Segenap 12 tim (beranggotakan mahasiswa dan sanitarian) berkeliling rumah warga, mewawancarai dan mengamati dan mengambil foto sarana sanitasi limbah domestik (bentuk bangunan tangki septik dan perpipaannya) serta sumber air bersih setiap rumah warga.  
Kegiatan survei mahasiswa dan sanitarian berhasil mengumpulkan 131 data rumah tangga. Data dan infomasi tersebut langsung dikirimkan (submitted) ke basis data dalam SIMPALD untuk selanjutnya divalidasi oleh narsum ICT SIMPALD kemudian ditampilkan dalam file spread sheet (Excel) untuk dijelaskan keabsahan dan maknanya. Data yang ada sudah menjadi milik Dinas PUPR yang nantinya akan difollow up untuk sosialisasi program layanan penyedotan lumpur tinja secara terjadwal atau tidak terjadwal.
Kegiatan ini memberikan banyak manfaat bagi mahasiswa karena selain pembelajaran kontekstual lewat praktik lapangan melakukan survei, juga mendapatkan pelajaran dari observasi pengolahan lumpur tinja di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Malimpung pasca kegiatan survei. 

Hasil: 

  1. Segenap partisipan mendapatkan refresh pengetahuan dan pengalaman pembelajaran kontekstual di masyarakat tentang kondisi akses (sarana prasarana) sanitasi air limbah domestik rumah tangga. Mereka mengetahui mata rantai penyelenggaraan sanitasi aman yang dimulai dari rumah tangga dengan penggunaan kloset leher angsa dan tangki septik kedap aman (tidak bocor atau merembes mencemari air dan tanah). Lalu air dan lumpur tinja yang ada dalam tangki septik disedot dan diangkut oleh truk tinja secara aman ke Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT). Di IPLT lumpur tinja dipisahkan cairan dan padatan melalui sejumlah kolam filterasi bakteri hingga pada akhirnya air limbah dan padatannya aman dibuang ke lingkungan. 
  2. Mahasiswa dan sanitarian berhasil menjangkau dan mengumpulkan 131 data rumah tangga yang nantinya akan difollow up oleh Dinas Bimacipta untuk sosialisasi program layanan penyedotan lumpur tinja secara terjadwal atau tidak terjadwal. Data dan infomasi tersebut dikirimkan (submitted) langsung ke basis data dalam SIMPALD untuk selanjutnya data-data tentang akses sanitasi itu diexport ke aplikasi spread sheet (excel) oleh narsum ICT dan ditampilkan dalam paparan, dijelaskan validitas data dan maknanya.
  3. UPT-PALD (Dinas Bimacipta) dan sanitarian (Puskesmas-Dinkes) mendapatkan manfaat langsung dari kegiatan tersebut khususnya data yang terkumpul sudah tersimpan dalam sistem data base SIMPALD untuk menjadi rujukan kegiatan progam penyelenggaraan sanitasi aman untuk menyediakan layanan air limbah domestik melalui program L2T2 dan L2T3.   
  4. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar lapangan tentang air limbah domestik yang sejalan dengan Mata Kuliah Generik Kompetensi yang mendukung pencapaian target ketuntasan belajarnya dalam mata kuliah yang dimaksud. 

    Kegiatan di luar kelas: Mahasiswa bekerja sama dengan sanitarian melakukan wawancara ke pemilik rumah dalam kegiatan survey akses sanitasi dan kunjungan pengamatan teknis pengolahan limbah di IPLT Malimpung, Pinrang