• itaibnu
  • 23 December 2020

Pengelolaan Pengetahuan pada Program Kerja Sama UNICEF-BaKTI

UNICEF melalui Yayasan BaKTI telah memberikan dukungan pelaksanaan program/kegiatan perlindungan anak, Humanitarian Programme Document (HPD) serta WASH (Water, Sanitation and Hygiene) di Sulawesi Selatan. Selama periode Oktober hingga Desember 2020 telah melaksanakan beberapa aktivitas sebagai berikut: 

Child Protection

Penyusunan Dokumen Human Interest Stories PKSAI dan Akta Kelahiran 

Sejak tahun 2014 sampai tahun 2020, Yayasan BaKTI bersama pemerintah daerah tingkat provinsi maupun kabupaten/kota telah bersama sama menyelenggarakan berbagai program/kegiatan. Mulai dari perumusan kebijakan, penguatan kapasitas bagi penyedia layanan, pekerja sosial, dan masyarakat sebagai penerima manfaat. 

Implementasi berbagai program dan kegiatan bertujuan untuk mengadvokasi dan mendorong kebijakan yang berpihak pada upaya pencegahan dan pelayanan perlindungan anak. Terutama anak dengan keluarga rentan yang ada di wilayah perkotaan maupun di pedesaan.  Program dan kegiatan yang telah dilakukan tentu ada yang dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Misalnya program pemenuhan akta kelairan bagi anak rentan dan pengembangan Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI). Untuk merekam berbagai cerita dan pengalaman yang menyentuh sisi humanis yang dialami oleh para penerima manfaat program/kegiatan yang telah terlaksana, UNICEF Indonesia melalui Yayasan BaKTI telah menuliskan sebuah dokumentasi Human Interest Stories. Dokumen ini menceritakan tentang pengalaman yang dirasakan oleh penerima manfaat layanan Pengurusan Akta Kelahiran dan PKSAI di 5 wilayah PKSAI, yakni Kota Makassar, Gowa, Maros, Bulukumba dan Kota Parepare. Dokumen Human Interest Stories diharapkan menjadi pembelajaran bagi anak-anak dan keluarga rentan lainnya. 

Penulisan Human Interest Stories melibatkan penulis, fotografer, para narasumber dari Sakti Peksos, Kepala Desa, Penyuluh Keluarga Berencana, dan para penerima manfaat. Proses penulisan dimulai dari bulan September- November 2020. 

Diseminasi Dokumen Pengelolaan Pengetahuan (KM) pada Program Perlindungan Anak untuk Memperluas Area Baru Pencatatan Kelahiran & PKSAI 

Sejak pendampingan hingga saat ini, beberapa dokumen pengelolaan pengetahuan telah dihasilkan. Antara lain: dokumen pengalaman peningkatan cakupan Akta Kelahiran di Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, Panduan Pemanfaatan Data Profil Kependudukan dalam SIAK untuk Program Perlindungan dan Layanan Anak, Human interest stories Akta Kelahiran dan PKSAI, Panduan Pengembangan dan Pelaksanaan PKSAI, Infografis Alur Kepengurusan Akta Kelahiran, policy brief, dan Buku Saku Reintegrasi Anak Berkonflik dengan Hukum. Dokumen ini menjadi bagian dari pengelolaan pengetahuan yang mesti disebarluaskan ke kabupaten/kota di Sulawesi Selatan maupun daerah lain di Indonesia. 

UNICEF melalui Yayasan BaKTI bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawei Selatan telah menyelenggarakan kegiatan diseminasi dokumen pengelolaan pengetahuan terkait akta kelahiran dan Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif pada tanggal 25 November 2020 dihadiri 53 orang. Peserta dari tingkat provinsi terdiri dari Bappelitbangda Sulsel, Dinas Sosial Sulsel, DP3A Sulsel, Dinas Dukcapil Sulsel, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan. Sementara dari kabupaten/kota (9 daerah) terdiri dari Bappeda, Dinas Sosial, DP3A, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dukcapil, Sakti Peksos dan P2TP2A.

Kajian Tolok Ukur Penganggaran (Financial Benchmarking) Perlindungan Anak Sebelum dan Selama Pandemi  COVID-19 

Financial Benchmarking for Child Protection (Acuan Keuangan Publik untuk Perlindungan Anak) memberikan ringkasan indikator berupa belanja untuk pemenuhan hak anak, pencegahan dan penanganan kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah dan penelantaran anak oleh pemerintah per anak sebagai persentase belanja utama pemerintah per kapita. Tujuan benchmarking adalah untuk memperoleh pengukuran yang sebanding dari realisasi pengeluaran anggaran oleh pemerintah mengenai pemenuhan hak anak, pencegahan dan penanganan kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi dan penelantaran terhadap anak dari waktu ke waktu. Kajian ini dilakukan di 4 wilayah, yakni di tingkat Provinsi Sulsel, Kota Makassar,  Kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros. Kajian Tolok Ukur Penganggaran (Financial Benchmarking) Perlindungan Anak sebelum dan selama pandemi  COVID-19, dilaksanakan dalam 4 tahapan kegiatan, yakni sebagai berikut:

  1. Tahap Pertama: Workshop Penyusunan Matriks Perlindungan Anak, dilaksanakan pada tanggal 25 November 2020.  Diikuti oleh 80 orang peserta.  Lokakarya penyusunan matriks identifikasi layanan terkait perlindungan anak telah melibatkan OPD/instasi terkait yang ada di 4 wilayah target (Provinsi Sulsel, Kota Makassar, Kabupaten Gowa dan Maros). Tujuan kegiatan ini untuk (a) Membangun pemahaman tentang tolok ukur keuangan pemerintah untuk perlindungan anak, (b) Mendiskusikan matriks layanan dan program untuk perlindungan anak, (c) Menyusun jadwal pengumpulan data pendukung kajian benchmarking. 
  2. Tahap Kedua: Pengumpulan Data yang dilakukan pada bulan November- 4 Desember 2020.  Fokus dari pengumpulan data adalah laporan pengeluaran (belanja) terkait layanan atau program perlindungan anak tahun 2017, 2018, 2019, dan perencanaan anggaran tahun 2020 sebelum pandemi COVID-19 dan anggaran perubahan/refocusing selama masa penanganan COVID-19 di 4 lokasi yaitu provinsi dan kabupaten/kota terpilih.  Data  yang dikumpulkan yaitu laporan keuangan tahun 2017, 2018, 2019, terutama yang sudah diaudit BPK  dan sudah disahkan melalui Peraturan Daerah serta Perencanaan Anggaran tahun 2020. Tujuan kegiatan: untuk mengkaji dan mendiskusikan program terkait perlindungan anak dan anggaran yang direncanakan serta pengeluaran (realisasi) baik melalui studi dokumen maupun wawancara dengan OPD terkait; Mengkonfirmasi layanan yang berhubungan dengan perlindungan anak dari kekerasan, perlakuan salah, eksploitasi, penelantaran termasuk pencatatan kelahiran dan penanganan perlindungan anak saat bencana; Mendapatkan data keuangan (rencana, pengeluaran) serta mengisi informasi/keterangan keuangan yang belum diperoleh. Mengumpulkan data untuk perhitungan proporsi misalnya jumlah anak yang jadi sasaran program atau jumlah kasus yang ditangani.
  3. Tahap Ketiga:  Melakukan input data dalam matriks,  analisis/mengkaji data rincian anggaran terkait perlindungan anak dan direkap ke dalam matriks yang tersedia. Kemudian dilanjutkan dengan analisis data.  Hasil analisis akan menyajikan gambaran seberapa besar biaya/anggaran untuk kegiatan pencegahan, layanan perlindungan anak di 4 daerah terpilih. Hasil kajian menyajikan berapa rincian pengeluaran perlindungan anak berdasarkan sektor, rincian pengeluaran perlindungan anak berdasarkan pencegahan dan penanganan, layanan langsung dan pendukung: porsi pengeluaran berdasarkan tingkat pemerintah, kualitas pengelolaan keuangan publik, dll. 
  4. Tahap Keempat: melakukan diseminasi hasil kajian Benchmarking Perlindungan Anak. Diseminasi Hasil kajian telah dilaksanakan pada tanggal 11 Desember 2020, yang diikuti oleh 42 peserta, berasal dari OPD lintas sektor  perlindungan anak. Diharapkan hasil kajian ini menjadi rujukan bagi OPD terkait untuk menyusun kebijakan yang responsif terhadap upaya pencegahan dan layanan perlindungan anak. Materi disajikan dalam bentuk kertas posisi atau infografis. 

Humanitarian Programme Document (HPD)

Diseminasi Video Tutorial Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH)

Unicef melalui Yayasan BaKTI memfasilitasi pembuatan Video Tutorial Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH) yang telah dilaksanakan pada bulan Agustus 2020 dengan melibatkan 8 orang trainer yang ada di Kabupaten Bone. Unicef melalui Yayasan BaKTI mengadakan pertemuan persiapan secara virtual bersama guru-guru Bimbingan Konseling (BK) baik dari SMP maupun MTs dari 7 Kabupaten/Kota (Makassar, Gowa, Takalar, Bulukumba, Maros, Pangkep dan Bone). Para peserta memperoleh informasinya pentingnya Pendidikan Kecakapan Hidup di masa pandemi COVID-19 dan juga mendapatkan penjelasan teknis implementasi video tutorial Pendidikan Kecakapan Hidup. Sebanyak 8 video telah dihasilkan dan dapat diakses melalui YouTube http://bit.ly/videoPKHSulsel

Pertemuan Persiapan Supervisi Pekerja Sosial dan Relawan Sosial

Melihat peran penting para Pekerja Sosial maupun Relawan Sosial, terutama dalam hal pencegahan, perlindungan, pemenuhan kebutuhan, maupun membantu segala permasalahan yang dihadapi anak pada situasi pandemi COVID-19, maka UNICEF melalui Yayasan BaKTI mengadakan kegiatan supervisi Pekerja Sosial dan Relawan Sosial oleh Supervisor, yang merupakan lanjutan dari kegiatan “Pelatihan Manajemen Kasus untuk Para Pekerja Sosial dan Relawan Sosial” dari 3 Provinsi: Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah.

Pekerja Sosial dan Relawan Sosial yang mengikuti kegiatan sebelumnya berjumlah 70 orang kemudian dibagi ke dalam 12 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 6-7 orang dan tiap supervisor mendapatkan 3-4 kelompok per orang untuk dilakukan supervisi secara virtual. Setiap supervisor mengatur waktu dengan peserta supervisi, dan menyiapkan laporan pendampingan kasus untuk dibahas dalam pertemuan dengan tetap memperhatikan kode etik pekerja sosial.

Non Government Institutional Meeting for Mapping Their Response Plan During the Pandemi

Penanganan COVID-19 tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, tetapi juga harus melibatkan semua pihak termasuk pihak non pemerintah (NGO/CSO). Hal ini dikarenakan dampak dari penyebaran virus ini tidak hanya pada aspek kesehatan, tetapi aspek lain seperti ekonomi dan sosial. Selain itu, virus ini juga tidak hanya berdampak pada orang dewasa, tetapi anak juga merasakan dampak dari virus ini bukan saja dampak langsung yaitu terpapar virus COVID-19, tetapi dampak tidak langsung antara lain makin meningkatnya jumlah kasus kekerasan yang terjadi pada anak, putus sekolah, perkawinan anak dan eksploitasi pada anak serta penelantaran anak. Dampak tidak langsung ini tentu akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak yang terganggu sehingga menjadikan anak dengan risiko tinggi selama masa pandemi ini.

Untuk itu, perlu ada aksi kolaborasi atau aksi bersama antar lembaga/institusi non pemerintah dalam melakukan upaya pencegahan dan perlindungan kepada anak dari dampak COVID-19, baik itu dampak langsung maupun dampak tidak langsung yang timbul. Aksi kolaboratif ini menjadi sangat penting untuk menyatukan sumber daya yang ada agar kerja-kerja penanganan dampak COVID-19 ini menjadi lebih efektif dan efisien. Pertemuan lembaga non pemerintah ini dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober 2020 melalui aplikasi Zoom dengan jumlah peserta yang hadir sebanyak 18 orang dengan output kegiatan 1) Sejumlah perwakilan lembaga non pemerintah, terlibat dalam menyusun matriks program/kegiatan pencegahan dan penanganan COVID-19; 2) Semua program/kegiatan pencegahan dan penanganan COVID-19 dari lembaga non pemerintah sudah dimasukan ke dalam matriks mapping; 3) Terpetakannya program yang dilaksanakan oleh NGO/Lembaga Non Pemerintah dalam merespon COVID-19yang  tertuang dalam matrik program; 4) Terpetakannya bentuk-bentuk kolaborasi antar lembaga non pemerintah; 5) Adanya strategi kolaborasi antar lembaga non pemerintah.


Pelatihan Dukungan Psikososial dan Kesehatan Mental untuk Konselor Sekolah

Untuk lebih memperkuat kompetensi Guru Bimbingan Konseling (BK) dalam melakukan konseling di masa pandemi seperti sekarang ini, maka UNICEF melalui Yayasan BaKTI memfasilitasi Pelatihan MHPSS (Mental Health Psychosocial Support) atau Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS) untuk Konselor Sekolah tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA di Sulawesi Selatan serta melibatkan mitra NGO dalam koalisi Respons COVID-19.
Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan dan Narasumber Dr. Faridah Aryani, M.Pd. Peserta yang terlibat berjumlah 359 guru BK dari perwakilan setiap sekolah di 8 Kabupaten/Kota: Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bulukumba, Maros, Pangkep dan Bone. Tujuan dari kegiatan ini untuk meningkatkan kompetensi konselor sekolah tingkat SMP/MTs dan SMA/SMK/MA dengan MHPSS (Mental Health Psychosocial Support) atau Dukungan Kesehatan Jiwa dan Psikososial (DKJPS).

Advokasi Anggaran Pencegahan COVID-19 di Sulawesi Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

Kegiatan advokasi program, kegiatan dan anggaran pencegahan COVID-19 di Sulawesi Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mendukung kerja-kerja dari Pemerintah Daerah melalui DPPPA dalam memberikan upaya pencegahan COVID-19 pada anak. Tentunya hal ini dikarenakan total persentase penduduk usia 0-18 tahun di Provinsi Sulawesi Selatan +/- 30% dari total populasi penduduk, sehingga tingkat kerentanan anak terdampak virus COVID-19 tentunya menjadi jauh lebih tinggi.

Untuk itu Yayasan BaKTI melalui dukungan UNICEF melakukan kegiatan untuk melakukan potret atas program, kegiatan dan anggaran dari DPPPA se-Kabupaten dan Kota di Sulsel untuk mendapatkan 4 hal yaitu:

  1. Apakah program dan anggaran yang ada di masing-masing OPD sudah mencukupi untuk memenuhi upaya pencegahan COVID-19 pada anak.
  2. Apakah sudah ada kebijakan-kebijakan yang disusun untuk mendukung upaya tersebut.
  3. Apa tantangan yang dihadapi oleh OPD dalam upaya pencegahan COVID-19 ini khususnya kepada anak. 
  4. Adanya data terpilah sederhana yang dapat dijadikan acuan dalam penyusunan Program dan Kebijakan dalam upaya pencegahan COVID-19.

Adapun output dari kegiatan ini adalah 1) Adanya 31 orang peserta yang mengikuti kegiatan Anggaran Pencegahan COVID-19 di Sulawesi Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; 2) Adanya matriks yang menggambarkan jumlah anak, jumlah penduduk vs jumlah anak, jumlah anak penyandang disabilitas, potret program dan kegiatan di OPD, dan alokasi anggaran pencegahan COVID-19.
 
IEC (Information, Education, and Communication) Materials

Parenting

Upaya pencegahan telah dilakukan dari berbagai pihak termasuk tindakan, informasi dan edukasi terkait pandemi COVID-19. Dimana informasi dan Edukasi di masa sekarang menjadi hal yang sangat penting untuk membuat masyarakat semakin mengetahui dan paham tentang protokol kesehatan untuk pencegahan penularan virus Corona. Untuk itu UNICEF melalui Yayasan BaKTI memfasilitasi Penyediaan Informasi dan Edukasi: Efek COVID-19 pada anak, cara menanggapinya, GBV dan Kesetiakawanan, serta parenting lainnya di masa COVID-19 versi bahasa Makassar dan Bugis. Semua materi dicetak ke dalam bentuk Leaflet yang akan didistribusi ke 12 wilayah PKSAI (Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif): Sulsel, Sulbar dan Sulteng. Output dari kegiatan ini ada tersedia dan terdistribusinya Leaflet Parenting COVID-19 versi Bahasa Bugis, Makasssar, dan Leaflet Perlindungan Anak di masa pandemi COVID-19.

Konferensi Kasus PKSAI Kabupaten Gowa

Pembahasan kasus dalam permasalahan sosial merupakan salah satu tahapan dalam pekerjaan sosial. Asesmen oleh pekerja sosial, psikolog dan profesi lain yang telah menangani kasus menjadi dasar untuk melakukan intervensi kasus. Penentuan keputusan sebagai intervensi ditempuh dalam suatu pembahasan kasus. Peserta pembahasan kasus tersebut adalah berasal dari pihak-pihak yang terkait dalam penanganan masalah. Sebagai contoh pemerintah desa, kepolisian, pekerja sosial, LSM, dinas terkait, dan lainnya. Prinsip kerahasian menjadi prinsip dalam penanganan kasus artinya permasalahan yang dialami oleh PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) hanya diketahui oleh pihak-pihak yang menangani permasalahan itu sendiri. Kepentingan terbaik bagi PMKS menjadi dasar pemecahan masalah. Pertemuan konferensi kasus bertujuan mengumpulkan data secara luas dan akurat serta menggalang komitmen pihak-pihak yang terkait dengan masalah/kasus tertentu dalam rangka pemecahan masalah dan menambah informasi serta menemukan solusi. Melalui konferensi kasus, para pihak dapat membuat kesepakatan tentang rencana layanan, mulai dari jenis layanan, rentan waktu pelayanan, dan rujukan. Konferensi kasus bisa dilakukan di tahap perencanaan, pelaksanaan, dan review. Untuk mendukung pelaksanaan konferensi kasus di 8 wilayah PKSAI, UNICEF melalui Yayasan BaKTI telah  memfasilitasi  pertemuan konferensi kasus dibeberapa wilayah PKSAI di Sulsel dan Sulbar. Di Sulawesi Selatan, PKSAI Gowa telah melaksanakan  2 kali konferensi kasus yakni pada tanggal 10 dan 13 November 2020; Kabupaten Maros, pada tanggal 25 November 2020, dan Kabupaten Polman (Sulbar) pada tanggal 23 November 2020. 

Meeting Pemerintah Antarsektor Advokasi Penganggaran selama COVID-19: Matriks Monitoring Program, Kegiatan dan Anggaran Respons COVID-19 se Sulawesi Selatan

Untuk melihat seberapa jauh kesungguhan pemerintah daerah dalam memberikan penanganan terhadap dampak COVID-19 terhadap anak bisa dilihat dari besaran anggaran yang dialokasikan untuk penanganan COVID-19 yang berdampak pada anak. Yayasan BaKTI melalui dukungan UNICEF mengambil inisiatif untuk menyusun satu tools monitoring program dan anggaran yang kemudian diharapkan juga menjadi tools pendataan terpilah sehingga dengan tools monitoring ini akan tergambar seberapa besar alokasi anggaran dari setiap Kab/Kota dalam penanganan COVID-19 khususnya untuk pencegahan pada anak dan penanganan anak yang terdampak.

Tujuan kegiatan ini dilaksanakan untuk menyusun matriks monitoring program dan anggaran yang dapat digunakan bagi kab/kota dalam pencegahan dan penanganan COVID-19 yang berdampak pada anak, menyediakan data program dan data anggaran penanganan COVID-19 dari setiap kab/kota di Provinsi Sulawesi Selatan, menyediakan data terpilah penerima manfaat khususnya anak dari setiap kab/kota di Provinsi Sulawesi Selatan, dan hasil Analisis Data Program dan Data Penerima Manfaat Penanganan COVID-19 di Kab/Kota yang dapat dijadikan alat advokasi ke lembaga eksekutif dan legislatif terutama dalam hal peningkatan anggaran.

Pelatihan Fasilitator Cegah Cyberbullying
 
Kegiatan Pelatihan Online Fasilitator Pencegahan Cyberbullying dilaksanakan pada hari Sabtu, 7 November 2020 mulai pukul 08.00 hingga 17.30 WITA. Pelatihan ini melibatkan Narasumber 3 orang dari Tim Think Before Type (TBT) dan 1 orang dari Bully.Id. Adapun peserta yang berpartisipasi yakni dari unsur Forum Anak Sulawesi Selatan dan Forum Anak perwakilan 24 Kabupaten/Kota dengan jumlah 93 orang. 

Mentoring Fasilitator Cegah Cyberbullying

Kegiatan mentoring dilaksanakan oleh 70 orang anak remaja yang telah mengikuti pelatihan online Fasilitator Pencegahan Cyberbullying dan Aktivitas yang Aman untuk Anak Remaja. Harapannya dalam proses ini materi-materi yang sudah didapatkan oleh peserta pelatihan atau dalam hal ini disebut Mentor, dapat menyampaikan ke teman-teman sebayanya yang lain. Tiap 1 orang Mentor membentuk kelompok dengan anggota minimal 10 orang anak dengan usia anak 11-20 tahun yang ada di Sulawesi Selatan.

Dalam proses mentoring, selain mentor menyampaikan materi-materi Cyberbullying, mereka juga mengajak peserta mentor untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan Kompetisi Cegah Cyberbullying dengan cara membuat video kompetisi: Konten Cegah Cyberbullying, durasi maksimal 1 menit dan diupload ke Instagram pribadi dan melakukan tag ke akun instagram yang sudah ditentukan.

Pengembangan Materi Cyberbullying

Kegiatan Pengembangan Materi Cyberbullying terdiri dari 3 tahap diantaranya: 1) Pembuatan Materi, 2) Desain Leaflet, 3) Distribusi dan Monitoring Leaflet ke 8 Kabupaten/ Kota: Makassar, Gowa, Takalar, Bulukumba, Maros, Pangkep dan Bone. Output dari kegiatan adalah tersedianya leaflet materi KIE yang didistribusikan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulawesi Selatan ke 24 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan.

Social Media Challenges “Cegah Cyberbullying”

Cyberbullying

Kegiatan Social Media Challenges Cegah Cyberbullying dilaksanakan sejak 8 November 2020 hingga batas upload video di instagram tanggal 15 November 2020 pukul 12.00 Wita. Kompetisi ini terbuka bagi anak-anak remaja usia 11 – 20 tahun dan berdomisili di Sulawesi Selatan. Kompetisi ini memilih 24 orang anak remaja dengan karya video terbaik Cegah Cyberbullying. 
Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari guru-guru sekolah, karena di masa pandemi anak-anak sudah tidak beraktivitas lagi di sekolah dan sepenuhnya kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah. Dengan berkegiatan di rumah, anak-anak yang memang dasarnya senang bermain di luar rumah, berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, akan menjadi bosan dan tentu ini sangat berdampak pada psikologi anak. Jadi dengan adanya kompetisi-kompetisi yang melibatkan anak remaja, ini akan menjadi kegiatan positif ditengah pandemi COVID-19. Kegiatan ini memberikan apresiasi kepada 24 orang pemenang dengan video kreatif terbaik “Cegah Cyberbullying”.

Social Media Challenges “Review Buku Rahasia Dua Dunia”

dua dunia

Kompetisi ini dibuka untuk umum mulai dari usia 11-20 tahun yang berdomisili di Sulawesi Selatan dan diikuti oleh total 60 anak. Diharapkan dengan mengikuti kompetisi ini, anak-anak memiliki kegiatan positif di masa pandemi COVID-19. Kegiatan ini memberikan apresiasi kepada 14 orang pemenang dengan video kreatif terbaik “Review Terbaik Buku Cerita Rahasia Dua Dunia”.

Social Media Challenges “Stop Perkawinan Anak di Masa dan Pasca COVID-19”

kawin anak

Kegiatan Social Media Challenges “Stop Perkawinan Anak di Masa dan Pasca COVID-19” dilaksanakan pada tanggal 2 – 21 November 2020. Kompetisi ini diikuti oleh 43 anak dengan usia 11 – 20 tahun dari seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. dan terpilih 10 orang pemenang. Peserta membuat video kreatif sesuai tema yang sudah ditentukan, kemudian meng-upload di media instagram pribadi dengan hashtag yang sudah disampaikan pada pelatihan sebelumnya dan video berdurasi 1 menit. Batas waktu upload di Instagram sampai dengan 21 November 2020.

Support Case Outreach and Online Consultation

Untuk mendukung penjangkauan kasus dan konsultasi online, UNICEF melalui Yayasan  BaKTI telah memfasilitasi para Sakti Peksos yang ada di 8 wilayah PKSAI di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, melakukan penjangkauan dan menginput data kasus dampingan kedalam aplikasi Primero.  Kegiatan ini mencatat ada 64 kasus dampingan Sakti Peksos di 5 PKSAI: Makassar, Gowa, Maros Bulukumba, dan Polman yang tersedia dalam matriks dan terinput ke dalam aplikasi Primero.

Adaptasi Video 'My Hero is You'

“My Hero is You”, sebuah cerita yang dikembangkan untuk dan oleh anak-anak di seluruh dunia, menawarkan cara bagi anak-anak dan orang tua untuk bersama-sama memikirkan pertanyaan yang ditimbulkan oleh pandemi tersebut. Didesain untuk dibaca oleh orang tua, pengasuh, atau guru bersama seorang anak atau sekelompok kecil anak, cerita ini dibentuk oleh lebih dari 1.700 anak, orang tua, pengasuh, dan guru dari seluruh dunia yang meluangkan waktu untuk berbagi cara mereka mengatasi dengan dampak COVID-19.

Agar lebih memudahkan memahami isi buku ini secara global, baik bagi anak maupun para orangtua, untuk itu buku “My Hero is You” dituangkan kedalam bentuk Video dengan judul yang sama “My Hero is You” dengan menggunakan bahasa Inggris dan tersedia juga dalam versi Bahasa Indonesia. Tetapi untuk memperluas jangkauan yang akan menonton video ini hingga ke pelosok daerah terutama di wilayah Sulawesi Selatan, maka Unicef melalui Yayasan BaKTI mengadaptasikan kembali video ini dengan konteks Sulawesi Selatan dengan judul "Kamu Pahlawanku", menggunakan dialek Makassar dengan tidak menghilangkan esensi dari video yang ada. Video ini dapat diakses melalui YouTube https://www.youtube.com/watch?v=zfA9-vwkjpg


WASH (Water, Sanitation and Hygiene)

Penyusunan Laporan Studi Akses Sanitasi Jamban Sehat bagi Kelompok Terakhir (Last Miles) Provinsi Sulawesi Selatan

Sulawesi Selatan telah mencapai akses sanitasi yang tinggi 96,68%, dan menempati provinsi kedua akses sanitasi yang tertinggi di bawah Yogyakarta. Namun demikian, upaya pemerintah Sulawesi Selatan untuk menjadi provinsi kedua setelah Yogyakarta berstatus bebas dari Buang Air Besar Sembarangan (BABS) atau Open Defecation Free (ODF) masih terganjal dengan banyaknya desa belum ODF. Dari 3,047 desa, hanya 2,082 desa atau sebesar 68% desa yang sudah berstatus ODF.

Kendala mewujudkan Sulsel sebagai provinsi ODF sedang dihadapi oleh banyak kabupaten di Sulsel. Sejumlah kabupaten itu mengalami stagnasi akselerasi peningkatan dari titik angka cakupan terakhirnya. Mereka kelihatannya menghadapi kendala atau kasus spesifik sehingga sulit mencapai 100 % akses sanitasi jamban sehat atau layak. 

Kabupaten Pangkep, Maros, dan Jeneponto adalah kabupaten yang akses cakupan sanitasinya sudah tinggi. Namun ketiganya, berdasarkan data STBM Maret 2020, mengalami keterlambatan pergerakan akselerasi dari capaian terakhir 89,1%, 89,6% dan 94,8%. Meskipun ketiga pemerintah daerah tersebut telah mengalokasikan anggaran secara berkelanjutan untuk percepatan akses sanitasi melalui kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), pemicuan  CLTS (Community  Led Total Sanitation) dan sosisalisasi program Lima Pilar STBM  di semua lapisan masyarakat.

Guna mempelajari fakta lapangan tentang penyebab terjadinya stagnasi akselerasi cakupan sanitasi dan segala informasi yang meliputinya, UNICEF melalui Yayasan BaKTI  bekerjasama dengan Pokja AMPL Provinsi dan Kabupaten melaksanakan studi cakupan sanitasi di ketiga kabupaten tersebut yang mana masih diduga memiliki kelompok-kelompok warga masyarakat yang belum mengakses sanitasi jamban sehat atau layak.

Rangkaian kegiatan studi akses sanitasi sehat bagi kelompok last miles meliputi (1) pertemuan tingkat kabupaten di tiga kabupaten: Maros, Jeneponto, dan Pangkep; (2) FGD tingkat kecamatan bagi semua kepala desa di kecamatan target; (3) FGD tingkat Puskesmas bagi semua sanitarian dan pengelola program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM); (4) Interview lapangan bagi warga kelompok terakhir yang belum mengakses sanitasi jamban sehat di semua desa di kecamatan target; dan (5) penyusunan laporan studi.

Proses penyusunan laporan studi telah berlangsung sejak awal dimulainya pengumpulan data dari FGD stakeholder tingkat kabupaten hingga interview lapangan (September-Oktober 2020). Namun untuk finalisasi laporan akhir dikerjakan melalui beberapa rangkaian diskusi pembahasan hasil studi (Oktober-November 2020) bersama tim program WASH Unicef dan tim peneliti. Adapun output dari kegiatan ini adalah 1) Tersusunnya laporan studi akselerasi jamban sehat bagi kelompok terakhir (last miles) di kabupaten Jeneponto, Maros dan Pangkep yang disetujui oleh tim program WASH UNICEF; 2) Tersedia laporan dalam bentuk digital dan hardcopy yang diserahkan ke pihak UNICEF dan masing-masing ketiga kabupaten lokasi penelitian. 

Pencetakan Produk Pengetahuan Program WASH
Pelaksanaan kegiatan program WASH dalam tahun 2020 menghasilkan sejumlah produk pengetahuan sesuai target output program yakni:

  1. Buku dokumentasi proses kegiatan Twinning Program, Bermitra Mengelola Lumpur Tinja. Buku ini mendokumentasikan keseluruhan proses dari pelaksanaan kegiatan kaji tiru pengelolaan lumpur tinja. Twinning Program sendiri dilaksanakan melalui kerjasama FORKALIM, IUWASH PLUS, UNICEF, Yayasan BaKTI, UPTD PALD Kabupaten Gresik dan Sidoarjo sebagai mentor serta UPTD PALD Kota Palopo, Kota Parepare, dan Kabupaten Pinrang sebagai mentee. 
  2. Buku pembelajaran dari kegiatan Twinning Program, Belajar Bersama Mengelola Lumpur Tinja. Buku ini sebagai ringkasan dari buku dokumentasi proses dari Twinning Program. Bertujuan menyampaikan poin-poin pembelajaran penting yang didapatkan oleh kabupaten mentee dan kabupaten mentor. Buku ini ditulis dalam dua versi yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. 
  3. Dokumen Strategi Sanitasi Sekolah (SSS) untuk kabupaten Bone dan Bulukumba. Penyusunan dokumen SSS ini dikerjakan melalui kerjasama UNICEF-Yayasan BaKTI, Pokja AMPL Provinsi, Pokja AMPL Kabupaten Bone dan Bulukumba. Dokumen ini disusun untuk tujuan membantu Pokja AMPL kedua kabupaten tersebut menyediakan road map Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) yang terintegrasi dengan pembangunan sanitasi sekolah di satuan pendidikan dasar SD, MI, dan SMP. Muatan utama dokumen ini terdiri dari (1) Analisis data kondisi terkini situasi sanitasi sekolah SD, MI, dan SMP yang mencakup sarana sanitasi, pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dan manajemen sanitasi; (2) Rencana prioritas program jangka pendek (quick win) dan menengah pembangunan sanitasi.
  4. Laporan Kajian Akselerasi Jamban Sehat bagi Kelompok Terakhir (Last Miles) Kabupaten Jeneponto, Maros, dan Pangkep. Hasil yang dilaporkan dari pelaksanaan studi last miles mencakup temuan faktor penyebab utama masih adanya kelompok atau warga masyarakat yang dalam kategori warga terakhir yang belum bisa memiliki akses jamban sehat di ketiga kabupaten tersebut. Faktor-faktor penyebab yang ditemukan boleh jadi masih terdapat juga di sejumlah kabupaten/kota di Sulsel yang belum berstatus ODF (Open Defication Free) atau bebas dari BABS. Kantong-kantong  last miles itu dipastikan menjadi penghambat utama tersuwujudnya kabupaten dan provinsi ODF. Berikut produk pengetahuan yang dihasilkan untuk pelaporan ke UNICEF dan Pokja AMPL Provinsi dan Kabupaten yakni: 
  • Buku Bermitra Mengelola Lumpur Tinja
  • Buku Belajar Bersama Mengelola Lumpur Tinja dalam Bahasa Indonesia dan Inggris.
  • Dokumen Strategi Sanitasi Sekolah (SSS) Kabupaten Bone dan Bulukumba
  • Dokumen laporan Studi Akselerasi Akses Jamban Sehat bagi Kelompok Last Miles Kabupaten Jeneponto, Maros, dan Pangkep. 
WASH